Beranda Tokoh

KH Bisri Syansuri: Ulama yang Tegas Namun Selalu Tawadlu-bag-1

BERBAGI
gb. kh bisri syansuri
KH Bisri Syansuri (gb. badurs-soleh)
gb. kh bisri syansuri
KH Bisri Syansuri (gb. badurs-soleh)

berita9online, KH Bisri Syansuri lahir di Desa Tayu, Pati, Jawa Tengah pada 18 September 1886. Ayahnya bernama Syansuri dan ibunya bernama Mariah. Ia adalah anak ketiga dari lima bersaudara, yakni anak pertama bernama Mas’ud, anak kedua bernama Sumiyati, anak ketiga Bisri (Mustajab), anak keempat dan kelima adalah Muhdi dan Syafa’atun. Ia wafat dalam usia 94 tahun, pada tanggal 25 April 1980 di Denanyar, Jombang, Jawa Timur. Makamnya berada di kompleks Pondok Pesantren Mambaul Maarif Denanyar Jombang, yang dibangunnya ketika ia baru berusia 31 tahun.

 

KH Bisri Syansuri dikenal luas sebagai salah satu tokoh pemikir modern yang cukup berperan penting dalam perkembangan pemikiran Islam dan politik di Indonesia, selain sebagai seorang ulama besar yang memiliki sifat sederhana dan rendah hati. Meskipun demikian, ia juga dikenal sebagai ulama yang teguh dalam mempertahankan prinsip. Dalam menjalankan tugas, ia selalu istiqamah dan tidak mudah goyah oleh ihwal lain, terutama dalam memutuskan suatu perkara yang berhubungan dengan syari’at Islam. Baginya, setiap persoalan sudah jelas hukumnya dan dalilnya dari Al Quran, Hadits, Ijma atau Qiyas. Kiai Bisri adalah teladan dalam mempertahankan prinsip yang tegas namun tetap santun.

 

Pendidikan
Pada usia tujuh tahun, Bisri remaja sudah giat belajar agama secara teratur, diawali dengan belajar membaca Al-Quran secara mujawwad (dengan bacaan tajwid yang benar) pada Kiai Shaleh di desa Tayu. Pelajaran membaca Al Qur’ an ini ditekuni sampai berusia sembilan tahun. Kemudian ia melanjutkan sekolah ke Pesantren Kajen. Di sini Bisri mempelajari dasar-dasar tata bahasa Arab, fiqih, tafsir Al-Qur’an dan hadits di bawah asuhan Kiai Abdul Salam, seorang huffadz yang juga terkenal penguasaannya di bidang fiqih, dengan gemblengan ketat hingga mewarnai corak kepribadiannya kelak.

 

Pada usia lima belas tahun, Bisyri Syansuri berpindah pesantren, belajar pada Syaikhona Kiai Kholil di Kademangan Bangkalan Madura. Kemudian pada usia 19 tahun ia meneruskan pelajaran ke Pesantren Tebuireng Jombang. Di bawah bimbingan KH Hasyim Asy’ari, ia mempelajari berbagai ilmu agama Islam. Kecerdasan dan ketaatannya menyebabkan tumbuhnya hubungan sangat erat antara dirinya dan hadratus syaikh pada masa-masa selanjutnya. Setelah enam tahun lamanya belajar di Tebuireng, pada usia 24 tahun ia melanjutkan pendidikan ke Makkah. Di tanah suci ini, ia berguru kepada sejumlah ulama terkemuka antara lain Syekh Muhammad Baqir, Syekh Muhammad Sa’id Yamani, Syekh Ibrahim Madani, Syekh Jamal Maliki, Syekh Ahmad Khatib Padang, Syekh Syu’aib Daghistani, dan Kiai Mahfuz Termas.

 

Sejak di Kademangan hingga di Makkah, ia bertemu dan bersahabat dengan KH Abdul Wahab Hasbullah. Ketika adik Kiai Wahab yang bernama Nur Khadijah menunaikan ibadah haji bersama ibunya pada tahun 1914, KH Abdul Wahab Hasbullah menjodohkan adiknya dengan KH Bisyri Syansuri, dan pada tahun itu juga ia pulang ke tanah air.

 

Kepulangan ke tanah air itu menghadapkannya pada dua pilihan untuk kembali ke Tayu atau menetap di Tambakberas.Atas permintaan keluarga Nur Khadijah, ia menetap di Tambakberas.Setelah dua tahun menetap dan membantu mengajar di Pesantren Tambakberas, pada tahun 1917 ia pindah ke desa Denanyar. Di sini ia bertani sambil mengajar hingga berkembang menjadi sebuah pesantren. Semula pesantren ini hanya mendidik santri laki-laki, tetapi pada tahun 1919 ia mencoba membuka pengajaran khusus bagi para santri wanita. Percobaan ini ternyata menimbulkan pengaruh positif bagi perkembangan pesantren, khususnya di JawaTimur, karena sebelumnya tidak pernah ada pendidikan khusus untuk santri putri.
Selain berkakak ipar dengan KH Abdul Wahab Hasbullah, KH Bisri Syansuri juga berbesan dengan KH Muhammad Hasyim Asy’ari, gurunya. Ia menikahkan putrinya, Hj. Solichah, dengan KH Ahmad Wahid Hasyim. Dari pernikahan ini, lahirlah KH Abdurrahman Wahid, alias Gus Dur, yang telah menjadi Presiden Republik Indonesia ke-4 (20 Oktober 1999 – 23 Juli 2001).

 

Pecinta Ilmu dan Ahli Fiqih
Dalam diri KH Bisri Syansuri paling tidak melekat tiga karakter sekaligus yaitu pendidik, pecinta ilmu dan ahli fiqih dan sekaligus seorang politisi. Karakter sebagai pecinta fiqih terbentuk ketika ia nyantri kepada Kiai Kholil Bangkalan, dan semakin menguat setelah nyantri di Tebuireng. Ia sengaja mendalami pokok-pokok pengambilan hukum agama dalam fiqh, terutama literatur fiqih lama. Karena itu, tidaklah mengherankan jika KH Bisri Syansuri begitu kukuh dalam memegang kaidah-kaidah hukum fiqih, dan begitu teguh dalam mengkontekstualisasikan fiqh kepada kenyataan-kenyataan hidup secara baik. Saking kuatnya memegang kaidah fiqih, KH Bisri Syansuri dikenal sebagai ulama yang tegas memegang prinsip. KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), yang juga cucunya sendiri, menyebutnya sebagai “pecinta fiqih sepanjang hayat”.

 

Ada kisah menarik antara KH Abdul Wahab Hasbullah dan KH Bisri Syansuri karena keduanya sering berbeda pendapat. Menurut Gus Dur, secara sosio-ekonomi keduanya berbeda. Kia Wahab lahir sebagai anak kaya di Kota Surabaya. Ibunya memiliki ratusan rumah di Bibis yang disewa oleh orang-orang Arab pada paruh kedua abad ke-19 Masehi. Sebaliknya, Kiai Bisri lahir beberapa tahun kemudian, di tengah keluarga miskin di kawasan Tayu Wetan, Pati.

 

KH Bisri Syansuri muda dapat terus menjadi santri karena ia mau mencuci pakaian dan menanak nasi untuk kawan barunya itu, yakni Kiai Wahab muda. Segera Bisri Syansuri muda menjadi orang kepercayaan Abdul Wahab karena jujur dan rajin. Seja saat itu, urusan pertemanan bukan lagi menyangkut mencuci dan menanak nasi melainkan soal kejujuran.

 

Ada cerita menarik ketika terjadi bahtsul masail. Gus Dur pernah menyaksikan sekitar 40 orang kiai berkumpul dari pagi hingga sore di ruang tamu KH Bisri Syansuri. Di situ keduanya berdebat seru, yang satu membolehkan dan yang satu lagi melarang sebuah perbuatan, hingga akhirnya semua kiai lainnya menutup kitab dan mengikuti saja kedua orang itu berdebat. Sampai-sampai, keduanya (Kiai Abdul Wahab dan Kiai Bisri Syansuri) berdiri dari tempat duduk mereka sambil memukul-mukul meja marmer yang mereka gunakan berdiskusi. Muka keduanya memerah karena bertahan pada pendirian masing-masing.

 

Perdebatan seru ini berakhir dengan pernyataan Kiai Wahab. “Kitab yang sampeyan gunakan itu kan kitab cetakan Kudus, sedangkan kitab saya adalah cetakan Kairo,” cetusnya. Ini adalah tanda KH Abdul Wahab Hasbullah kalah argumentasi dan akan menerima pandangan KH Bisri Syansuri. Walau pada forum bahtsul masail itu mereka berbicara sampai memukul-mukul meja dengan wajah memerah, namun ketika beduk berbunyi, Kiai Bisri segera berlari ke sumur di dekat ruang pertemuan itu untuk menimbakan air wudhu bagi iparnya itu.

 

Beda pendapat boleh tapi harus tetap rukun. Itulah keteladanan yang mereka tunjukkan. KH Bisri Syansuri bukan tipologi kiai yang kaku dan kolot dalam berinteraksi dengan masyarakat. Hal itu setidaknya terlihat dari sikapnya dalam bersahabat dan dalam upayanya merintis pesantren di Denanyar.M Shoelhi dari berbagai sumber

Tulis Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.