Tausiyah: Menggusur Rumah Rakyat

BERBAGI
Ilustrasi [risalah nu]

berita9online, Kezaliman atas rakyat akan membuahkan bencana bagi penguasa dan antek-anteknya di zaman Bani Israel.

Umm Hayah, wanita berusia 63 tahun, pagi ini tengah melayani pelangganan setianya yang cukup banyak. Sejak pukul enam pagi ia sudah melayani tamu langganan kuenya itu. Kue Kibbeh buatan Umm Hayah sangat digemari di kota Balaoun, wilayah Palestina Barat. Tak sampai satu jam persediaan kue jualan Umm Hayah habis tandas.

Setiap hari ia hanya membuat 82 biji kue dan yang dijualnya 80 biji. Dua biji buat persediaan sendiri. Sebiji kue untuk sahur dan sebiji lagi untuk buka puasa. Umm Hayah menghabiskan waktunya dengan puasa, salat, dan membaca kitab suci. Jika ada sisa kue ia sedekahkan sebelum waktu Lohor tiba.

Ia tak mau melebihkan jualannya sejak suaminya meninggal tujuh yang lalu. Sejak ia membuka usaha kue Kibbeh ia tak mau mengurangi dan melebihkan produksinya. Ia sudah merasa cukup dengan menjual 80 biji kuenya.

Kue Kibbeh terbuat dari tepung gandum dan daging kambing yang sudah dihaluskan. Ditambah minyak zaitun, susu, sedikit madu, kemudian digoreng atau dibakar. Umm Hayah suka membuat kuenya digoreng dengan minyak Zaitun sehingga mengeluarkan bau wangi khas.

Karena hanya menjatah setiap hari hanya 80 biji, maka pemesan harus antre. Umm Hayah juga hanya mau menjual kuenya setiap orang maksimal 5 biji. Ia tak ingin kuenya dikuasai segelintir orang sehingga menterlantaran banyak orang.

Harganya juga sangat murah. Ia hanya menjual dengan harga setengah Drahma atau setengah Dirham, atau 20 sen uang perak masa itu. Secara perghitungan tidak untung. Ketika bahan-bahan naik, Umm Hayah juga tak mau menaikkan harga. Ia juga tak mau mengurangi ukuran kuenya. Ia benar-benar berusaha sebagai upaya mencari ridla Allah.

Baginya menjual kue adalah upaya mencari harta halal dan rangkaian dari ibadah. Ada nilai silaturrahmi dan saling tolong menolong. Buktinya, Umm Hayah tak pernah rugi meskipun harga melambung naik dan harga kuenya tetap dengan ukuran yang sama. Keberkahan yang memang dicari Umm Hayah, bukan menumpuknya harta yang kemudian melenakan dia dari mengingat Sang Pencipta.

Tukar Guling
Suatu hari, tiba-tiba lima orang pengawal raja mengetuk pintu rumahnya saat Umm Hayah tengah menunaikan salat Dluha. Umm Hayah menganggap pelanggan atau pembeli kue yang mengetuknya.

“Kuenya sudah habis,” jawabnya dari dalam biliknya yang sangat sederhana.

“Umm Hayah, kami bukan membeli kuemu. Kami juga bukan mau memesan kuemu. Kami utusan Raja yang ingin menemuimu.”

“Utusan raja,” sela Umm Hayah.

Ia segera membukakan pintu. Dilihatnya lima orang tentara pengawal raja mengenakan pakaian Romawi dengan persenjataa lengkap dan masih muda-muda. Umm Hayah mempersilahkan duduk, tapi, mereka menolak.

“Lalu, maksud tuan-tuan menemui saya untuk apa?”

“Kami menyampaikan surat keputusan raja yang mengaitkan dengan Anda.”

Umm mengambil gulungan surat dari kertas papirus yang dilak dengan lilin. Ia segera membacanya surat dalam bahasa Ibrani itu.

“Wahai Umm Hayah, aku Raja Hizram, rajamu, dengan ini memutuskan untuk membahagiakanmu dengan memindahkanmu dari rumah yang hampir roboh ini ke rumah parmenan dari batu yang sudah tersedia di desa Yazof. Luas tanahmu juga akan dilipatkan tiga kali lipat. Rajamu juga akan memberimu uang harian sebanyak 100 Drahma selama engkau hidup. Jika engkau setuju, cukup dengan mengembalikan surat ini kepada pengawalku yang datang.”

Umm Hayah sangat kaget dengan surat itu. Ia terdiam terpaku cukup lama, hingga lima pengawal raja itu menegornya.

“Maaf pengawal, ini mengejutkanku. Untuk apa sebenarnya ini?” tanyanya.

“Raja akan memperluas istananya. Rumah Anda dianggap mengganggu pemandangan indahnya istana raja.”

“Aku tak bisa menjawab sekarang. Ini rumah mendiang suamiku yang jatuh kepadaku. Bisakah engkau datang besok lagi untuk mendapatkan jawabanku.” Pengawal raja itu setuju.

Keesokan harinya, pengawal raja itu menyaksikan antrean pembeli kue Kibbeh. Hingga ia kemudian menemui Umm Hayah.

“Bagaimana, sudah kau putuskan?” tanya komandan pengawal itu. Kali ini mereka lebih banyak jumlahnya sehinga menarik perhatian pembeli kue Kibbeh.

“Begini. Saya sangat menghargai keputusan raja. Tapi, saya tidak mungkin meninggalkan desa ini. Bagi kami desa ini sudah menyatu dengan kami. Kue Kibbah juga sudah menyatu dengan kami, desa kami, dan masyarakat di sini.”

“Di daerah baru Ibu kan juga bisa memulai usaha baru. Dan mungkin, uang harian dari raja akan membahagiakan ibu tanpa harus kerja lagi.”

“Aku sudah berjanji kepada mendiang suamiku untuk tidak meninggalkan desa ini apa pun yang terjadi. Sampaikan salamku untuk raja kami yang mulia agar juga menghargai sikap kami yang tidak ingin pindah. Kalau rumah saya dianggap mengganggu, saya minta maaf.”

Dipaksa
Hingga tujuh kali pengawal raja membujuk Umm Hayah, namun, ia tetap kokoh dengan pendiriannya.

Maka, suatu hari Umm Hayah harus pergi meninggalkan desanya untuk suatu hajat, kemenakannya menikah di BirSyalom. Cukup lama ia pergi hingga dua minggu karena perjalanan harus dilakukan dengan jalan kaki dan mendaki gunung menempuh perjalanan lima hari.

Tanpa sepengetahuannya, rumahnya dirobohkan dan peralatan dalam rumah tergeletak begitu saja. Ketika Umm Hayah datang, ia sangat kaget dan hampir menjerit belihat rumahnya yang roboh. “Di mana aku nanti salat,” teriaknya.
Ia protes, tapi, tak didengar raja.

“Engkau telah kehilangan kesempatan menerima tawaran raja,” kata pengawal raja.

Umm Hayah lantas sujud menghadap Baitul Maqdis. “Ya Allah, hamba sangat lemah, namun kekuasaan telah memperdaya hamba. Hamba tahu ya Allah bahwa Engkau Mahakuasa yang tak mungkin Engkau membiarkan hamba yang lemah menjadi tindasan hamba-hambamu yang congkak, rakus, dan mabuk kekuasaan. Hamba berserah diri kepada-Mu ya Allah. Hamba menuntut keadilan karena keadilan di tangan kekuasaan menjadi belati mematikan buat yang lemah. Engkaulah Maha Adil.”

Tiba-tiba ia mendengar suara gelegar yang sangat menakutkan. Ia mengira gunung batu di sekitar ini runtuh dan mengenainya. Benar. Gunung-gunung batu itu tiba-tiba bergoyang dan menjatuhkan batu-batu raksasanya ke arah desa itu. Istana raja bagaikan dibombardir manjaniq (meriam kuno) raksasa yang memuntahkan peluru batu-batu besar yang dalam waktu singkat telah menghancurkan dan memusnahkan kemegahan itu.
Suara tangisan pilu membahana dari istana. Diperkirakan raja, permaisuri, anak-anaknya, tetamu yang tengah menikmati hidangan mewah, ikut menjadi korban amarah Allah. Warga kota berhamburan menyelamatkan diri. Para pengawal yang galak sudah tak ketahuan lagi batang hidungnya.

Ketika Umm Hayah menengadah dari sujud panjangnya dan kemduian melihat istana, ia tak lagi melihat kemegahan dan kebanggan kekuasaan itu, selain puing-puing yang menerbangkan debu-debu memerihkan mata. Kota menjadi gelap meski di siang hari. Kecongkaan dan kekuasaan sirna karena kezaliman yang dilakukan penguasa.

Kisah ini dikutip secara bebas dari Irsyadul Ibad karya Syaikh Zainuddin Al-Malibari pada bab Zalim.

(Musthafa Helmy-Risalah NU Ed-63)

TIDAK ADA KOMENTAR

Tulis Komentar

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.