Beranda Tausiah

Menjadi Tamu Allah Secara Benar

BERBAGI
Ilustrasi [Risalah NU]

berita9online, Ada 28 warga desa Azimiyah pada tahun 200 hijriyah ini yang akan menunaikan ibadah haji. Mereka akan dipimpin Abu Saleh, seorang saudagar kaya. Abu Saleh menjanjikan akomodasi rombongan selama perjalanan sekitar sebulan dan selama di tanah suci menjadi tanggungannya.

ADA 40 unta yang akan berangkat menuju tanah suci. Masing-masing jemaah naik seekor unta besar yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa sehingga nyaman dinaiki. Sisanya, 12 unta untuk mengangkut perbekalan. Abu Saleh sangat teliti menghitung perbekalan dan selalu disiapkan lebih. Setiap hari ada tanda khusus bekal yang dijadikan menu hari itu.

Abu Saleh sudah menghitung titik-titik yang bisa dimanfaatkan untuk bekal minum dan membeli makanan. Abu Saleh sudah tujuh kali menunaikan ibadah haji. Kali ini Abu Saleh disertai istri dan tiga orang anaknya. Jarak Baghdad-Mekah sekitar 2.000 kilometer.
Setelah sedekah makanan dengan tetangga, Abu Saleh mengajak semua jemaah ke masjid untuk menunaikan salat perjalanan. Setelah itu ia ke rumah sejumlah ulama di sekitar Azimiyah. “Mohon doalah kepada Syaikh Bisyr Al-Hafi,” kata seorang ulama menasihati Abu Saleh.

Setelah diiringi azan dan iqamat, berangkatlah kafilah membelah kota Bagdad. Mereka akan menuju kota suci Madinah dulu. Dijadwal mereka akan tiba di Mekah pada pertengahan Zulkaidah. Kafilah nantinya akan bertemu dengan kafilah lainnya di luar Baghdad. Gubernur Bahgdad telah menetapkan seorang Amirul Hajji untuk memimpin perjalanan haji ini.

Telanjang Kaki
Tidak jauh dari kampung Azimiyah, utara Baghdad itu, hidup seorang ulama besar yang bernama Bisyr bin al-Harits bin Abd al-Rahman bin ‘Atha Abu Nashr al-Marwazi al-Baghdadi. Ia lebih dikenal dengan nama Bisri Al-Hafi. Nama gelar Al-Hafi diberikan karena ia tak pernah mengenakan sandal atau alas kaki lainnya.

Ia ulama dan sufi besar yang lahir di kota Merv, Turkmenistan, pada tahun 152 H (767 M) dan wafat tahun 227 H (850 M). Ia murid Imam Malik, Fudhail bin Iyadh, Ibn al-Mubarak, Abdur Rahmad bin Aslam dan sejumlah ulama besar lainnya. Ia menjadi guru dari sejumlah ulama antara lain sufi besar Sirri al-Saqathi, Ibrahim bin Hani al-Nisaburi, Umar bin Musa al-Jalla, dan lain-lain.

Ia semula pemuda yang suka foya-foya. Suatu saat ia menginjak selembar kertas yang ternyata bertuliskan kalimat Allah. Serta merta ia mengambilnya, membersihkannya dan memuliakannya. Ia beli minyak wangi untuk mengurapinya dengan wewangian. Setelah itu ia letakkan kertas itu di tempat yang terhormat.

Malam harinya ia bermimpi ada suara yang didengarnya lantang. “Wahai Bisyr engkau telah mengurapi wewangian nama Allah maka namamu akan diwangikan di dunia dan akhirat.” Ia bangun dan kemudian melakukan pendekatan kepada Allah.

Dikisahkan, selama 40 tahun ia tak pernah makan daging dan buncis. Ia juga berpantang meminum air dari saluran yang ada pemiliknya. Empatinya kepada kaum fakir miskin begitu luar biasa. Pernah salah seorang tokoh sedang bersama Bisyr dalam suasana cuaca yang sangat dingin. Semua orang mengenakan jaket tebal. Tetapi Bisyr malah melepas pakaiannya sehingga tubuhnya menggigil kedinginan. Mengapa? Tanya ulama lainnya.

“Aku teringat orang-orang miskin yang tak memiliki jaket. Aku tidak mempunyai uang untuk menolong mereka, karena itu aku ingin merasakan penderitaan mereka.”

Ada yang menyebut Bisyr adalah pengikut mazhab Ahmad bin Hanbal (164 H/780M-241 H/855 M.) Tapi, Ibnu Hiban menyebut bahwa Bisyr adalah pengikut mazhab Sofyan Tsauri (96 H/716 M – 161H/778 M) “Mengenai setiap bidang yang kalian sebutkan tadi, aku memang lebih ahli daripada Bisyr. Namun mengenai Allah, ia lebih ahli daripada aku.” Itu kata-kata imam Ahmad bin Hanbal ketika ditanya kesukaannya berkunjung ke Bisyr yang usianya terpaut 12 tahun. Setiap hari tamu selalu ramai di rumah Bisyr.

Dalam pengajiannya, Syaikh Bisyr pernah barkata: “Camkanlah, bahwa orang-orang miskin terbagi atas tiga golongan. Golongan pertama adalah orang-orang miskin yang tak pernah meminta-minta dan apabila mereka diberikan sesuatu mereka menolaknya.

Orang-orang seperti ini adalah para spiritualis. Seandainya orang-orang seperti ini meminta kepada Allah, niscaya Allah akan mengabulkan segala permintaan mereka.

Golongan kedua adalah orang-orang miskin yang tak pernah meminta-minta, tetapi apabila kepada mereka diberikan sesuatu, mereka masih mau menerimanya. Mereka ini berada ditengah-tengah. Mereka adalah orang-orang yang teguh di dalam kepasrahan kepada Allah. Mereka inilah yang akan dijamu oleh Allah di dalam surga. Golongan ketiga adalah orang-orang miskin yang duduk dengan sabar menantikan pemberian orang sesuai dengan kesanggupan, tetapi mereka menolak godaan-godaan hawa nafsu.”

Dialog Berharga
Maka, kemudian tibalah rombongan Abu Saleh memasuki rumah Syaikh Bisyr yang sangat sederhana. Syaikh memberi minuman air putih dan kurma. Syaikh Bisyr sangat bahagia menerima tamu Allah yang kini di rumahnya.

“Kalian akan naik haji?”

“Benar Syaikh.”

“Doakan aku nanti di Multazam. Sampaikan salamku untuk junjunganku Rasulullah. Manfaatkan waktu yang ada hanya untuk ibadah dan menolong orang.”

“Baik syaikh.”

“Omong-omong ini naik haji pertama?”

“Ada yang pertama syaikh. Tapi, saya dan istri saya perjalanan ini adalah yang ketujuh. Anak-anak saya melaksanakan haji yang ketiga. Rombongan kami ada separuh yang belum pernah berhaji sama sekali,” Abu Saleh menjawabnya dengan bangga.

Syaikh Bisyr menggelengkan kepalanya. “Tujuh kali berhaji. Aku baru sekali berhaji di saat mudaku. Kini usiaku 50 tahun,” kata Syaikh Bisyr. “Berapa biaya berhaji tahun ini?”

“Sekitar 200 Dinar.”

Syaikh Bisyr menggeleng-gelengkan kepala, takjub.

“Uang sebesar itu jika engkau belikan kebun kurma dan kemudian dimanfaatkan oleh keluarga miskin dengan sejumlah anak yatim tentu sangat berguna. Sepanjang mereka beribadah dan belajar dengan hasil kebun itu, maka pahalanya akan terus mengalir hingga hari kiamat.”

“Benar syaikh.”

“Aku beritahukan kepada kalian semua, jika kalian ini berhaji untuk kedua kalinya atau yang lebih dari bilangan itu, urungkanlah. Lebih baik uangmu untuk kaum fakir miskin yang di Baghdad ini sangat banyak. Pahalamu akan lebih banyak daripada kau berhaji yang kedua kalinya.”

“Benar syaikh.”

“Di sekitar rumahku ini banyak janda yang suaminya mati karena perang dan lain sebagainya. Mereka setiap pagi mengais makanan apa pun di jalanan dan di pasar. Aku menangis melihatnya. Jika aku ada makanan aku panggil mereka untuk bergabung. Wajah mereka bahagia ketika bisa menyantap makanan. Apalagi anak-anak mereka yang tertawa girang menikmati makanan. Mereka tak pernah membayangkan uang apalagi hingga mencapai 200 dinar yang bisa membeli 10 ekor unta.”

Harta Bersih
“Benar syaikh.”

“Aku memberitahu kalian tentang pahala yang jauh lebih besar dari menunaikan haji yang kedua kalinya. Memang tidak akan menyenangkan. Jika engkau berhaji maka engkau akan melihat Kakbah dengan matamu. Engkau melihat kebesaran Allah dengan matamu. Tapi, tahukan kalian semua, bahwa dengan memperhatikan kaum miskin dan yatim itu, justru hatimu yang akan melihat Kakbah dan kebesaran Ilahi. Hidupmu akan lebih tenang karena Kakbah ada dalam hatimu, bukan melintas di depan matamu.”

Mereka pamit dan menangis, tapi kafilah Abu Saleh berjalan terus. Syaikh Bisyr menutup mukanya dan menitik air matanya.

“Ya Allah ampunilah mereka, ampunilah mereka, ampunilah dan terimalah hajinya sebagai haji mabrur.”

Syaikh Bisyr kemudian berkata kepada tamunya yang lain. “Begitulah jika harta itu kurang bersih, harta itu selalu menariknya pada kesenangan walaupun dibungkus indah dengan ibadah.”

[MUSTHAFA HELMY]

Tulis Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.