Kiai Said Aqil Sirodj: Jangan Terjebak Gaya Abu Lahab – Abu Jahal

BERBAGI
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) DR KH Said Aqil Srodj (foto: Risalah NU)
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) DR KH Said Aqil Srodj (foto: Risalah NU)
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) DR KH Said Aqil Srodj (foto: Risalah NU)

 

 

berita9online, Judul di atas sebenarnya dikutip dari sambutan Ketua Umum PBNU, DR KH Said Aqil Sirodj ketika meresmikan TV Haji di Asrama Haji Bekasi, Jawa Barat.

 

Sebelumnya kiai Said memberikan pesan semoga TV Haji bisa bermanfaat bagi ummat, terutama dalam menyebarkan, memperluas, meningkatkan kualitas tafaqquh fiddin (mendalami ilmu agama). “Wama kanal mukminuna liyanfiru kaffah, tidak layak, tidak patut kalau orang mukmin, terutama orang NU semuanya jadi DPR, caleg, sibuk berpolitik. Tafsirannya begitu”, kata Kiai Said.

 

Yang benar menurut ulama kelahiran Cirebon ini adala harus ada yang di DPR, parpol, tapi jangan semuanya. Harus ada falaula nafaro min kulli firqotin minhum thoifatun liyatafaqqohu fiddin, ada sekelompok orang mukmin yang aktivitasnya tidak pergi-pergi, tidak keluar rumah, tapi diam. Diamnya ini mengemban tugas yang tidak kalah beratnya, tidak kalah mulianya, tidak kalah agungnya dengan yang ada di DPR, yaitu liyatafaqqohu fiddin.

 

Tugasnya ulama, lanjut Kiai Said adalah menjaga, mengawal, meningkatkan, memperluas, mendalami, mengkaji, meneliti, dalam pemahaman agama.”Jadi yang paling wajib men-tafaqquh fiddin adalah kita Nahdlatul Ulama (NU). Jangan sampai pembimbingan haji, DKM-DKM masjid dipegang oleh bukan orang NU, salah semua nanti itu! Jenggotnya saja yang panjang nanti”, tegas Kiai Said.

 

Kiai said kemudian melanjutkan, “Dikira kalau pakai jenggot, gamis, sorban itu ittiba’an li rasulillah SAW.Tidak salah, itu pakaiannya Rasullullah. Tapi jangan lupa, Abu Jahal juga sama pakaiannya. Yang membedakan apa, gak usah Rasulullah deh! Yang membedakan antara Sayyidina Abu bakar, Umar dengan Abu Jahal-Abu Lahab? Bedanya, para sahabat Nabi mukanya ramah, mukanya basyasyatul wujuh, mukanya santun, ramah, simpatik. Kalau Abu Jahal-Abu Lahab serem, sangar. Jadi kalau diantara kita ada yang pakai gamis, jenggotan, mukanya santun, ya itu ittiba’an li rasulillah SAW, kalau sangar, ittiba’an li Abi Jahl.

 

“Kiai Mahrus-Lirboyo kalau Jum’atan pakai gamis.Tapi pakai gamis yang dibarengi dengan basyasyatul wajh, dengan akhlak. Maka yang paling berhak tafaqquh fiddin kita, jangan sampai orang lain, karena kitalah yang paling ahli, bidang kita adalah agama”,pungkasnya. (MS)

TIDAK ADA KOMENTAR

Tulis Komentar

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.