Khotbah al-Asybāh Ali ibn Abi Thalib, bagian-1

BERBAGI
gb ali
(gb. gaung-belida)
gb ali
(gb. gaung-belida)

berita9online, Khotbah  ini dikenal sebagai Khotbah Tengkorak (Khotbah al-Asybāh), dan salah satu yang berkedudukan tertinggi di antara khotbah-khotbah Amirul Mukminin. Mas’adah ibn Shadaqah meriwayatkan dari Imam Ja’far ibn Muhammad ash-Shadiq a.s. seraya mengatakan, “Amirul Mukminin menyampaikan khotbah ini dari mimbar (mesjid) Kufah ketika seseorang bertanya kepadanya, ‘Hai, Amirul Mukminin, gambarkanlah Allah bagi kami sedemikian rupa sehingga kami dapat membayangkan bahwa kami melihat Dia dengan mata sehingga cinta dan pengetahuan kami mengenai Dia dapat bertambah. Amirul Mukminin marah karena (permintaan si penanya) itu dan memerintahkan kaum Muslim berkumpul di Mesjid. Demikian banyak muslimin berkumpul di Mesjid sehingga tempat itu penuh sesak. Amirul Mukminin naik ke mimbar sementara ia masih dalam keadaan marah dan ronanya berubah. Setelah memuji Allah dan menyanjung-Nya serta memohon salawat-Nya atas Nabi, ia berkata:

 

Segala puji bagi Allah yang penolakan untuk memberikan dan kepelitan tidak menjadikan kaya, dan kemurahan dan kedermawanan tidakmenjadikan miskin, walaupun setiap orang yang menyerahkan akan kehilangan (sebanyak yang diberikan), kecuali Dia, dan walaupun setiap orang kikir disalahkan karena kekikirannya.

 

la menolong melalui nikmat yang bermanfaat dan pemberian yang melimpah, dan anugerah. Semua ciptaan bergantung kepada-Nya (dalam rezeki). la telah menjamin kehidupan mereka dan telah mengatur rezeki mereka. la telah menyediakan jalan bagi orang-orang yang berpaling kepada-Nya dan orang-orang yang mencari apa yang ada pada-Nya.

 

la sama pemurah tentang apa yang diminta dari-Nya maupun tentang apa yang tidak diminta pada-Nya. la yang Awal yang bagi-Nya tiada ‘sebelum’, sehingga mustahil ada apa pun sebelum-Nya. la yang Akhir yang tidak ada ‘sesudah’ sehingga mustahil ada sesuatu sesudah-Nya. la mencegah bola mata dari memandang atau melihat-Nya. Waktu tidak berubah bagi-Nya, sehingga mustahil mengakui suatu perubahan keadaan mengenai Dia. la tidak berada di suatu tempat sehingga mustahil ia berpindah (dari satu tempat ke tempat yang lain).
Apabila Dia memberikan semua yang dimuntahkan tambang-tambang di bukit-bukit, atau emas, perak, mutiara, dan potongan-potongan karang yang dimuntahkan kerang di lautan, hal itu, tidak akan mempengaruhi kemurahan-Nya, tidak pula akan mengurangi jumlah yang la miliki. (Sesungguhnya) la masih mempunyai khazanah nikmat berkelimpahan yang tak akan berkurang dengan permintaan hamba-hamba-Nya, karena ialah Wujud Yang Pemurah; (Dzat permintaan para peminta tidak memiskinkan dan tidak pula ketekunan para pemohon membuat (Dia) menjadi kikir.

 

Sifat-sifat Allah seperti Digambarkan Al-Qur’an

Maka lihatlah, wahai penanya, bataskanlah diri pada sifat-sifat-Nya yang telah digambarkan Al-Qur’an dan carilah cahaya dari sinar petunjuk-nya. Tinggalkan kepada Allah pengetahuan yang telah didesakkan setan untuk Anda cari, yang tidak disuruh Al-Qur’an untuk Anda cari, dan tidak ada pula jejaknya dalam perbuatan atau ucapan Nabi SAW dan para pemimpin (imam) petunjuk lainnya.

 

Ini batas ujung hak Allah atas Anda. Ketahuilah bahwa orang-orang yang bersiteguh dalam ilmu adalah orang-orang yang menahan diri dari membuka tirai-tirai yang mendustakan yang gaib, dan pengakuan mereka akan ketidaktahuan tentang detail-detail dari hal-hal gaib yang tersembunyi mencegah mereka dari meraba-raba lebih jauh. Allah memuji mereka karena pengakuan mereka bahwa mereka tak mampu mendapatkan pengetahuan yang tidak diperkenankan kepada mereka. Mereka tidak mendalami pembahasan atas apa yang tidak disuruh kepada mereka tentang mengenal Dia dan mereka menamakannya keteguhan. Puaslah dengan ini dan janganlah membatasi Kebesaran Allah menurut ukuran akal Anda sendiri, agar Anda tidak termasuk orang yang dibinasakan.
Dia Mahakuasa, sehingga bilamana khayalan menembakkan panahnya untuk memahami ujung kekuasaan-Nya, dan pikiran, dengan membebaskan diri dari bahaya-bahaya pemikiran jahat, berusaha mendapatkan-Nya dalam kedalaman kerajaan-Nya, dan hati berhasrat untuk menangkap hakikat dari sifat-sifat-Nya, dan lowongan akal menembus ke balik penggambaran untuk mendapatkan pengetahuan tentang wujud-Nya, menyeberangi lubang gelap perangkap kegaiban dan memusatkan kepada-Nya, maka la akan mengembalikan mereka.

 

Mereka akan kembali dengan kekalahan dengan mengakui bahwa hakikat pengetahuan-Nya tidak dapat dipahami oleh usaha-usaha serampangan semacam itu, tak dapat pula setitik pun kemuliaan dari kehormatan-Nya memasuki pengertian para pemikir.(pesantrenglobal)

TIDAK ADA KOMENTAR

Tulis Komentar

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.