Ketika Kemarau Mencekik Suatu Negeri

BERBAGI
gb. ilustrasi tausiyah
Ilustrasi Tausiyah
gb. ilustrasi tausiyah
Ilustrasi Tausiyah

berita9online, Kemarau panjang pernah mencekik negeri tandus Yaman, sehingga banyak ternak yang mati dan kelaparan meluas deranya.

Belum pernah negeri para habib ini mengalami kekeringan seperti sekitar 400 tahun yang lalu. Sumber air sudah tak ada lagi yang bisa mengeluarkan sisa-sisa kandungannya. Angin bertiup panas karena bersentuhan dulu dengan gunung batu yang mendidih.

Tak ada lagi rumput segar yang menarik perhatian ternak di negeri yang menjadi tempat terakhir Nabi Syuaib ini. Ternak-ternak tampak kurus kering. Susu hanya bisa keluar dalam bentuk tetesan dan orang berebut meminumnya. Sapi dan kambing memangsa apa saja di jalanan. Sungai-sungai hanya menjadi cekungan penuh batu.

Sultan Yaman tak berkutik karena ia sendiri juga merasakan penderitaan yang berat. Di mana-mana diselenggarakan salat Istisqa, namun hujan hanya turun hemat. Meski telah menghibur warga Yaman tapi belum bisa menyelesaikan persoalan mereka. Kelaparan menghebat membuahkan tindakan kriminal di mana-mana. Polisi tak kuasa bertindak karena ia seolah tak memiliki tenaga untuk merelai atau menindak mereka.

Masyarakat melaksanakan di masjid dengan tayammum. Air hanya bisa untuk sekedar minum dengan hemat. Pemerintah memberi jatah air minum dengan mendatangkan dari wilayah utara Oman dan barat Arab Saudi. Air didatangkan dengan ratusan unta. Air ditukar dengan emas permata dan harta lainnya.

Kafilah air harus dijaga pasukan keamanan agar aman bisa masuk merata ke seluruh wilayah. Jika tidak, maka air itu akan dijarah di tengah jalan.

Wajah mereka tampak kosong. Bibirnya kering. Orang tak berani keluar rumah karena panas terik sampai 55 derajat Celcius. Pasar tak bergairah karena daya beli memang merosot dan tak ada makanan yang bisa djual.

Sultan dan masyarakat Yaman tak kuasa setelah lelah lama berdoa. Air matapun kalau perlu mereka isap lagi dengan lidah mereka. Sultan mencoba mengasihi mereka yang menderita dengan sedekah. Gerakan sedekah dilakukan. Namun, belum juga menemukan hasil.

Entah bagaimana, tiba-tiba Sultan mendapat usul seseorang untuk mendatangi seorang wali bernama Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad yang tinggal di Hadramaut.

Sultan memang pernah mendengar nama ini karena banyak buku yang ditulisnya. Buku-buku seperti Risalatul Muawanah, Ad-Da’watut Tamah, Nashaihud Diniyah, dan lain sebagainya dikaji di sejumlah masjid. Begitu juga kasidah-kasidah penuh doa, selawat, dan tawassul dengan junjungan Kanjeng Rasulullah karya Habib dibaca usai salat berjemaah.

Setelah menempuh perjalanan yang sangat jauh, Sultan kaget menjumpai Habib yang di rumah itu tak kurang apa pun. Air mengalir deras hingga dimanfaatkan warga setempat. Buah-buahan dan makanan apa pun tersedia di rumah itu dan dibagikan hingga ke ujung desa. Sultan dan pengawalnya memperoleh jamuan mewah itu semua. Meski ia melihat Habib Abdullah selalu berpuasa.

Betapa kaget Sultan melihat Habib Abdullah ternyata seorang tuna netra. Ia mengalami tunanetra sejak kecil. Tapi, otaknya begitu hebat. Ia hafal Al-Quran dalam usia 4 tahun. Ia menghafal hadis Sahih Bukhari dan Sahih Muslim dalam usia 8 tahun. Ia hafal Ihya Ulumiddin karya Imam Ghazali dalam usia 12 tahun.

Jika ia mengajar, kesejukan yang ditiupkan. Ia selalu menyebutkan dirinya sebagai al-faqir adl-dlaif. Untuk menjaga agar ia tidak dihormati orang, ia jarang melakukan perjalanan. Ketika ia dengar bahwa sultan akan datang, ia siapkan murid dan masyarakat untuk menjemputnya serta menyiapkan makanan. Pemimpin harus dihormati, katanya. Apalagi kepala Negara, maka selayaknya semua menghormatinya.

Habib Abdullah menyiapkan sendiri makanan untuk tamunya yang mulia. Sultan sangat merasa dihormati oleh seorang ulama besar. Sedangkan Habib Abdullah mendapat kehormatan dikunjungi seorang pemimpin Negara.

“Apakah Habib telah mendengar bahwa negeri kami dalam keadaan kelaparan panjang dan mengalami kekeringan hebat?” tanya Sultan.
“Benar Sultan, kami mendengarnya dari orang-orang, karena itu rumah kami terbuka untuk siapa saja yang ingin menikmati makan dan minum di sini.”

“Tapi, Habib, dari mana Habib mendapatkan makanan ini semua? Begitu banyak macamnya yang tak mudah dijumpai di Yaman.”
“Sultan yang saya hormati dan saya muliakan. Sultan tentu tahu bahwa saya tidak melihat, saya tidak tahu dari mana makanan itu datang. Saya tidak pernah meminta. Sultan, bumi Allah ini sangat luas. Jika bagian bumi mengalami kekeringan maka bagian bumi yang lain mengalami hal yang berbeda. Itu keadilan Allah dalam rangka memberi pelajaran kepada kita semua.”

Sultan semakin terkagum dan hormat keoada Habib Abdullah. “Dapatkah Habib berdoa untuk kami dan rakyat kami agar segera melewati masa kering dan peceklik yang sangat mendera ini?”

“Pertama, bersabar dan tabah menerima cobaan Allah. Kemudian, kunci doa yang mustajab itu adalah bagaimana kita meninggalkan dosa-dosa dan pengkhianatan. Seseorang akan dikabulkan doanya jika ia tak lagi memiliki dosa dengan sering istigfar. Seseorang tak akan dikabulkan doanya selama ia masih memiliki tanggungan dengan saudaranya.

Karena itu marilah kita semua beristigfar kepada Allah. Jika Rasulullah setiap harinya selalu beristigfar antara 70 sampai 100 kali, lalu berapa yang layak buat kita. Mulailah dari Sultan untuk beristigfar dan nantinya akan diikuti oleh seluruh rakyat.”

“Dapatkah Habib menyusun doa yang bisa dibaca dan diamalkan rakyat kami agar bisa lepas dari penderitaan ini?”
“Saya memang banyak menulis buku, tapi, saya tak bisa mengarang doa. Karena doa-doa yang diajarkan Rasulullah sudah sangat lengkap untuk tujuan apa saja. Doa Rasulullah adalah doa yang sangat didengar oleh Allah SWT. Berdoalah dengan doa-doa Rasulullah itu.”

“Ajarkan kepada kami wahai Habib doa-doa Rasulullah itu.”
Habib Abdullah tersenyum dan lantas mendiktekan kepada salah seorang muridnya bacaan-bacaan dan doa itu. Pertama ia tulis ayat kursi dan lima ayat terakhir surah Al-Baqarah. Kemudian lailaha illallah wahdahu la syarika lahu lahul mulku walahul hamdu yuhyi wa yumitu wahuwa ‘ala kulli syay’in qadir.Kemudian tasbih, takbir, tahmid, dan hawqalah.

Kemudian berbagai doa Rasulullah ditulisnya, termasuk asmaul husna, surah Al-Ikhlas dan al-muawwidzatain (Al-Falaq dan An-Nas).

“Hanya ini Habib?” Tanya Sultan tak percaya karena sangat pendek dan mudah dihafal.
“Benar Tuan Sultan. Mari kita baca bersama dan nanti bacalah bersama-sama di masjid dan rumah-rumah. Insya Allah kemakmuran akan kita dapatkan. Kekeringan ini adalah peringatan Allah bahwa kita sudah kehilangan kasih sayang dengan sesama. Rasulullah bersabda: sayangilah yang di bumi maka yang di langit akan menyayangimu.”

Sultan tak kuasa menangis mendengar nasihat seorang mukhlis yang kedudukannya sangat dekat dengan Allah itu. Habib Abdullah adalah wali qutub, tingkatan tertinggi untuk para wali Allah.
“Tuan Sultan amalkan ratib (urutan doa) ini. Insya Allah jalan keluar akan segera muncul dengan seizin Allah SWT.”

Sultan lantas memerintah kepada seluruh rakyat untuk mengamalkan Ratib itu yang kemudian dikenal namanya dengan Ratib Al-Haddad, karena disusun oleh Habib Abdullah Al-Haddad. Di masjid para jemaah laki-laki membacanya bersama-sama. Di rumah-rumah para ibu juga membaca dengan anak-anak perempuan mereka secara bersama-sama pula. Berdengunglah kembali doa-doa Rasulullah yang bahananya melingkupi wilayah Yaman.

Ternyata semua orang merasakan kesejukan dan ketenangan setelah membaca Ratib. Ratib tiba-tiba menjadi bacaan wajib setelah Al-Quran di masjid-masjid setiap habis magrib. Orang membacanya sambil jalan kaki, jualan di pasar, dan lain sebagainya. Kegembiraan tiba-tiba muncul di masyarakat. Tak terasa makanan kemudian melimpah. Hujan merata dan air mengalir ke mana-mana.

Ketika keadaan yang telah berubah ini dilaporkan kepada Habib Abdullah, sang Habib hanya bisa menangis.
“Kenapa kalian melapor kepadaku. Itu bukan karena ku. Tapu, justru bersyukurlah kepada Allah SWT. Berselawatlah kepada Rasulullah SAW yang telah mengajarkan doa-doa mustajab itu.

Alhamdulillah, jika demikian rakyat ini sudah mulai bebas dari belenggu dosa-dosa dan kesalahannya. Para pemimpin dan pejabat mulai menyadari tanggungjawab dan amanahnya. Para pemimpin mulai menyayangi dan mengasihi rakyatnya. Rakyat juga mulai menyayangi dan menghormati pemimpinnya, sehingga Allah ridla dengan kita semua. Inilah yang kemudian disebut baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur.” (MH)

TIDAK ADA KOMENTAR

Tulis Komentar

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.