Beranda Tausiah

Indahnya Bersama Ulama

BERBAGI
ilustrasi [Risalah NU]

berita9online, Penduduk Basrah selalu menyebut dan memanggilnya Al-Khobbaz untuk nama Ali bin Ahmad Al-Basri. Nama itu diberikan sebagai gelar untuk pembuat roti hebat yang sangat terkenal di Basrah. Ali adalah pedagang yang sukses. Usianya sudah mencapai 60 tahun lebih. Gairah keagamananya juga tinggi. Sebelum kumandang azan tiba, ia sudah menutup gerainya dan menuju masjid. Ia akan buka lagi setelah ia selesai membaca wirid dan salat sunnah lainnya.

Juga, gerainya tak akan buka sebelum selesai pengajian Subuh usai meskipun orang sudah banyak mengantre. Rumah dan gerainya tak jauh dari Masjid Ali bin Abu Thalib. Di masjid ini dahulu Khalifah Ali pernah salat. Masjid ini menjadi masjid tertua yang dibangun bersamaan dengan pembangunan kota Basrah oleh Utbah bin Ghazwan atas perintah Khalifah Umar bin Khattab tahun 637 M.

Pada zaman keemasan Kalifah Abbasiyah, Basrah menjadi kota persinggahan penting para pedagang Arab, sebelum mengarungi lautan berdagang ke timur jauh di Cina. Basrah berada 67 kilometer utara Teluk Arab, 50 kilometer dari perbatasan Kuwait-Irak dan sekitar 540 kilometer selatan ibukota Irak, Baghdad.

Ali Al-Khobbaz menjadi saksi sejarah. Ia lahir di zaman Khalifah Al-Hadi (785-786) dan ia menyaksikan kegemilangan Basrah di masa Khalifah Abbasiyah Harun Al-Rashid (798-809 M). Ia sempat pernah bercengkerama dengan khalifah yang sangat berwibawa itu. Ketika kisah ini ditulis, ia hidup di masa Khalifah Al-Makmun (813-833M). Jika kalender itu ditulis akan mencatat kejadian itu pada bulan Muharram tahun 210 H atau sekitar tahun 830 M.

Kelebihan Ali adalah kebiasaannya membaca istigfar. Diyakini, inilah yang membuat usahanya maju pesat. Jika ia memulai mengerjakan sesuatu ia baca basmalah dan selanjutnya membaca istigfar berkali-kali, mulai istigfar yang sangat sederhana astaghfirullah hingga sayyidul istigfar. Kedai rotinya ramai namun ia tetap bersahaja dan tak ingin kedainya mengganggu aktifitas keagamaannya.

Suatu hari, dalam sebuah pengajian Subuh ia mendengar seorang ulama berkata: “Berbahagialah kalian semua yang masih punya ulama. Ulama itu mencegah turunnya bencana Allah. Kita bersyukur masih banyak ulama di wilayah kita, terutama di Bagdad yang bisa menjadi panutan. Ulama yang harus menjadi panutan adalah ulama yang berilmu namun juga mengamalkan ilmunya. Ia berakhlak terpuji sehingga menjadi panutan. Bibirnya selalu dihiasi zikir dan ungkapan manis. Jika kalian melihat ulama seperti itu, memandang wajahnya saja merupakan ibadah dan menjadikan Allah menurunkan rahmat-Nya. Ulama itu antara lain adalah Imam Ahmad bin Hanbal yang kini tinggal di Baghdad.”

Mendengar nama itu, bergetar hati Ali. “Mungkinkah aku bisa bertemu ulama besar itu. Aku ingin menatap wajahnya. Aku ingin mencium tangannya. Kalau boleh aku ingin mengikutinya ke mana ia pergi dan menyampaikan ilmunya,” kata Ali dalam hati. Ia selalu berdoa untuk bisa bertemu Imam Ahmad bin Hanbal. Tapi, untuk ke Baghdad sudah tak mugkin karena faktor usia.

Ulama Panutan
Siapa tak kenal Imam Ahmad Hanbal yang memiliki nama lengkap Abu Abdillah, Ahmad bin Ahmad bin Muhammad bin Hanbal Asy-Syaibani. Ia adalah pendiri Mazhab Hanbali. Ia juga masih memiliki pertalian darah dengan Rasulullah yang bertemu melalui Nizar bin Ma’ad bin Adnan. Ia lahirkan di ibu kota kekhalifahan Abbasiyah di Baghdad, Irak, pada tahun 164 H/780 M. Baghdad masa itu menjadi pusat ilmu dan peradaban dunia. Di kota ini para ahli berkumpul untuk belajar ataupun mengajarkan ilmu.

Ahmad berhasil menghafalkan Al-Quran secara sempurna saat berumur 10 tahun. Setelah itu ia baru memulai mempelajari hadis. Sama halnya Imam Syafii, Imam Ahmad pun berasal dari keluarga yang tidak mampu dan ayahnya wafat saat ia masih anak-anak. Di usia remajanya, ia bekerja sebagai tukang antar barang untuk membantu perekonomian keluarga. Hal itu ia lakukan sambil membagi waktu belajar dengan tokoh-tokoh ulama hadis.

Guru pertama Ahmad bin Hanbal adalah murid senior Imam Abu Hanifah (Imam Hanafi) yakni Abu Yusuf al-Qadhi. Ia belajar dasar-dasar ilmu fikih, kaidah-kaidah ijtihad, dan metodologi kias dari Abu Yusuf. Setelah memahami prinsip-prinsip Mazhab Hanafi, Imam Ahmad mempelajari hadis dari seorang ahli hadis Baghdad, Haitsam bin Bishr. Ia juga mendatangi kota-kota ilmu lainnya seperti Mekah, Madinah, Suriah, dan bahkan Yaman. Dalam perjalanan tersebut ia bertemu dengan Imam Syafi’i di Mekah yang ia manfaatkan untuk menimba ilmu.

Ahmad kemudian menjadi seorang ahli hadis sekaligus ahli fikih yang kerap dijadikan tempat belajar dan bertanya, terutama setelah Imam Syafi’i wafat di tahun 820 M.
Ketenarannya itu tetap membuatnya hidup sederhana. Ia tetap tetap rendah hati. Ali Al-Khobbaz mendengar bahwa majelis Imam Ahmad adalah majelis akhirat. Tidak pernah sedikit pun menyebut persoalan dunia di dalamnya. Para ulama menyaksikan bahwa Imam Ahmad bin Hanbal tak pernah datang ke istana tanpa undangan.

Pada tahun 813-833, dunia Islam dipimpin oleh Khalifah al-Makmun, seorang khalifah yang terpengaruh pemikiran Mu’tazilah yang bertentangan dengan pemikiran Islam arus utama. Mu’tazilah memperjuangkan peran rasional dalam semua aspek kehidupan, termasuk teologi. Di antara pokok keyakinan Mu’tazilah ini adalah meyakini bahwa Al-Quran adalah makhluk. Banyak ulama teropaksa danberpura-pura menerima demi menghindari penganiayaan. Berbeda dengan Imam Ahmad yang menolak tegas. Akibatnya, ia dipenjara dan disiksa.

Tahun 847 Imam Ahmad dibebaskan karena pergantian khalifah dan juga perubahan pemikiran keagamaan. Khalifah Al-Mutawakkil, penggantinya, tidak lagi beraliran Mu’tazilah.

Menuju Basrah Imam Ahmad bin Hanbal sekitar tahun 830 pernah ke Basrah. Imam Ahmad ke Basrah numpang ikut rombongan kafilah yang hendak meneruskan perjalanan umrah ke Mekah. Imam Ahmad naik salah satu unta kafilah itu yang khusus mengangkut perbekalan. Di bagian punggung unta itu dipasang kayu untuk tempat duduk imam.

Bahkan, kadangkala pula di situ ia melaksanakan salat di atas unta dalam perjalanan itu.
Jarak Baghdad-Basrah mencapai sekitar 540 kilometer. Jika naik mobil mungkin bisa ditempuh sekitar enam jam. Tapi, karena dikakukan dengan naik unta maka perjalanan sampai sepekan lebih. Perjalanan melalui Karbala, Hilah, Samawah, dan Nashiriyah. Rombongan masuk kota Basrah saat menjelang senja. Imam Ahmad langsung menuju masjid Ali bin Abi Thalib sebelum azan Isya dikumandangkan dengan suara indah khas Basrah.

Hati Imam Ahmad gembira ketika bisa masuk ke masjid bersejarah ini. Ia melaksanakan salat tahiyyatul masjid, dan berbagai salat sunah lainnya sebelum melaksanakan salat berjemaah salat Isya. Imam salat yang juga sudah tua begitu bagus suaranya. Masjid penuh kalangan tua dan muda dan juga para wanita di bagian belakang.

Dua jam usai salat, masjid sudah mulai sepi. Imam Ahmad mencoba berselonjor kaki menghilangkan kepenatan perjalanan di masjid itu sambil membaca Al-Quran dan bacaan lainnya.

Pada saat itu, tiba-tiba ada seseorang yang mendekatinya. “Syaikh, engkau tidak hanya melaksanakan salat isya kan?” tanya laki-laki yang ternyata petugas kebersihan masjid itu. Imam Ahmad dipanggil syaikh karena usianya yang sudah tua.

Imam Ahmad mengangguk. “Benar, aku dari perjalanan yang jauh dan ingin istirahat di sini,” katanya, menjawab.

Memang, tak semua orang tahu sosok Imam Ahmad, meskipun namanya terkenal d Baghdad. Bajunya yang sederhana bisa mengelabui orang yang tidak tahu siapa sebenarnya lak-laki itu.

Laki-laki petugas kebersihan masjid itu sontak melarang. “Tidak boleh, tidak boleh tidur di masjid.”

Imam Ahmad dipaksa berdiri dan kemudian didorong keluar dari dalam masjid yang kemudian dikunci. Imam Ahmad kemudian memilih teras masjid untuk merebahkan dirinya. Kantuk dan letih benar-benar menguasainya.

Tapi, ketika ia mencoba berbaring di teras masjid, petugas kebersihan masjid itu kembali datang dan menghardik mengusiknya. “Kenapa masih di sini Syaikh, bukankah saya tadi katakan, tidak boleh tidur di masjid.”

“Bukankah saya istirahat di teras masjid, bukan di dalam masjidnya” bantah Imam Ahmad.

Lalu petugas itu berkata; “Syaikh, di dalam masjid tidak boleh tidur, begitu juga di teras masjid juga tidak boleh.” Imam Ahmad diusir. Imam Ahmad didorong-dorong sampai jalanan. Kali ini petugas masjid yang usianya sudah di atas 50 tahun ini lebih kasar memperlakukan Imam Ahmad. Ia tak tahu siapa syaikh itu yang ternyata adalah ulama besar itu juga tak memerkenalkan dirinya.

Kerinduan
Mendengar ada sedikit keributan, Ali Al-Khobbaz datang mendekat.
“Ada apa?” tanya Ali Al-Khobbaz.
“Ada musafir ingin tidur di masjid, aku larang.”
“Kenapa kau larang? Tidak biasanya.”
“Ada perintah imam yang melarang siapa pun menginap di area masjid ini, termasuk di terasnya.”
“Di teras pun engkau larang?” tanya Ali.
“Yah itu perintahnya.”
“Sejak kapan perintah itu datang?”
“Tadi habis salat isya.”

Ali mengelengkan kepala. Ia kemudian mendekati Imam Ahmad. “Syaikh tidurlah di rumahku. Rumahku tidak besar tapi bisa menampung syaikh.”

Ali memegangi tangan imam dan mengajaknya masuk ke dalam rumah. Ia beri roti dan minuman air hangat campur kurma. “Sampai kapan pun engkau boleh menginap di rumahku, syaikh.”

Imam Ahmad merasa mendapat kehormatan. Ia rebahkan tubuhnya. Tapi, imam melihat sesuatu yang unik pada penjual roti ini. Ia hanya bicara jika Imam Ahmad bertanya. Selebihnya, mulutnya selalu berkomat kamit istighar. “Ini sebuah kebiasaan mulia,” kata Imam Ahmad dalam hati.

Lalu imam Ahmad bertanya, “Sudah berapa lama kamu lakukan bacaan istighfar ini?”
“Sudah lama sekali syaikh, saya menjual roti sudah 30 tahun, jadi semenjak itu saya lakukan bacaan ini.”

Imam Ahmad bertanya lagi; “Apa hasil dari bacaan istigfarmu ini?”

Orang itu menjawab sambil mengerjakan adonan rotinya; “Berkah istighfar tidak ada hajatku kepada Allah kecuali dikabulkan Allah dengan cepat. Semua yang saya minta langsung diwujudkan oleh Allah yang Maha Dermawan itu.”

“Subhanallah.” Imam Ahmad teringat hadis Rasulullah: “Siapa yang selalu beristighfar, maka Allah akan menjadikan jalan keluar baginya dari semua masalah dan Allah akan memberikan rizki dari jalan yang tidak disangka-sangkanya.”

Ali kemudian melanjutkan, “Kadang aku malu kepada Allah karena semua hajat dan harapanku selalu dikabulkan, kecuali satu, masih satu yang belum Allah kebulkan.”
Imam Ahmad penasaran, ia bertanya; “Apa yang satu itu?”

“Saya minta kepada Allah supaya dipertemukan dengan seorang ulama besar yang bernama Imam Ahmad bin Hanbal.”

Seketika itu juga Imam Ahmad bertakbir. “Allahu Akbar..! Allah Akbar. Ternyata Allah telah mendatangkan saya jauh dari Bagdad pergi ke Bashrah, kebijakan baru imam masjid melarang siapapun menginap di masjid, sampai petugas masjid mendorong-dorong saya keluar masjid hingga ke jalanan ternyata karena istighfarmu.”

“Maksudnya?” Penjual roti itu terperanjat. Ia segera memuji Allah. Sebab, ternyata lak-laki yang ada di didepannya itu adalah Imam Ahmad bin Hanbal yang dirinduinya.

Ia pun langsung memeluk dan mencium tangan Imam Ahmad. Ia limpahkan semua kehormatan untuk sang imam di rumahnya. Tamu berdatangan setelah mendengar kabar Imam Ahmad datang di rumah Ali, termasuk imam masjid dan petugas masjid.

Imam Ahmad banyak menjelaskan keutamaan istighfar kepada para tamunya meniru cara yang dilakukan Ali Al-Khobbaz.

Wafatnya Imam Ahmad
Imam Ahmad wafat di Baghdad pada tahun 855 M. Seorang penulis baghdad, Banan bin Ahmad al-Qashbani yang menyaksikan dan menghadiri pemakaman Imam Ahmad bercerita, “Jumlah laki-laki yang mengantarkan jenazah Imam Ahmad berjumlah 800.000 orang dan 60.000 orang wanita.”

Imam Ahmad bin Hanbal dimakamkan di Kompleks Pemakaman Bab Harb yang tertelak di kawasan El-Hibna, sebelah barat Pemakaman Quraisy. Selain Sang Imam, banyak nama yang dimakamkan di sini, di antaranya sejarawan al-Khathib al-Baghdadi.

Banyak karamah yang disaksikan dari sosok Imam Ahmad. Ibnu Jawzi dalam manakib Imam Ahmad menukil kisah dari Abu Bakar ibn Makarim ibn Abi Laila Al-Harbi.

“Pernah terjadi hujan lebat berturut-turut beberapa hari sebelum masuk bulan Ramadhan. Lalu aku bermimpi, seakan aku mendatangi kuburan Imam Ahmad ibn Hanbal untuk berziarah. Aku meyaksikan kuburan beliau turun beberapa senti. Maka aku berkata,

“Mungkin ini dikarenakan banyak hujan turun mengenai kuburan Imam Ahmad.” Tiba-tiba seketika aku mendengar suara dari dalam kubur: ‘Tidak! Tetapi karena wibawa Allah Azza wa Jalla yang ‘telah menziaraiku’.” Lalu aku bertanya kepada-Nya tentang rahasia mengapa Dia menziarahiku tiap tahun, maka Dia menjawab, ‘Hai Ahmad, engkau telah membela kalam-Ku, ia sekarang tersebar-luas dan dibaca di mihrab-mihrab’.”

Maka aku mencium kuburnya dan berkata: ‘Wahai Tuanku! Apa rahasia kemuliaan kuburan Tuan? Ia menjawab, ‘Hai anakku, ini bukan karena kemuliaanku, tetapi kemuliaan Rasulullah SAW. Sebab, bersamaku ada beberapa helai rambut Rasulullah. Ketahuilah, barangsiapa mencintaiku pasti ia menziarahiku setiap bulan Ramadhan. Beliau katakan itu dua kali.”

[Musthafa Helmy]

Tulis Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.