Begitu Pentingnya Silaturrahmi

BERBAGI
silaturrahi gb.

silaturrahi gb.Ia termasuk ulama terpandang di Mekkah, namun saat kematiannya ia digabungkan dengan ruh-ruh orang sesat karena tidak pernah silaturrahmi.

Musim semi di Mekkah begitu nyaman. Angin semilir mengumbar kesejukan, berputar, bertatap dengan gunung-gunung batu yang menjadi perisai kota suci Mekah. Matahari dari timur mulai nampak. Kemilau cahaya terlihat di Gunung Qubais, cahayanya membentur menara sisi timur Masjidil Haram.

Syaikh Syam’un masih memutar tasbihnya tepat di depan Multazam. Ribuan orang yang lalu lalang tawaf tak mengusiknya. Di sisinya Syaikh Sulaimi, ulama besar dari Khurasan yang sudah dua hari ini menjadi tamu Syaikh Syam’un. Ia datang langsung melaksanakan umrah dan kemudian tinggal di rumah Syaikh Syam’un di bilangan Syi’ib Amir.

Keduanya langsung pulang berjalan kaki, melalui tempat sai (mas’a). Mereka menyeruak kerumunan orang di Shafa dan melangkah meninggalkan Masjidil Haram. Dua ulama ini sejak pukul 02.00 dinihari sudah meninggalkan rumah menuju Masjidil Haram dan langsung melaksanakan tawaf. Seperti kebiasaannya, Syaikh Syam’un selalu mengkhatamkan Al-Quran sepekan sekali. Setelah Subuh ia membaca wirid-wirid hingga terbit matahari. Setelah terbit matahari ia menunaikan salat dua rekaat.

Dua ulama ini teman lama ketika berguru di Madinah. Syaikh Sulaimi memilih kembali ke Khurasan karena ia putera seorang ulama besar di wilayah itu. Sulaimi kemudian menggantikan kedudukan ayahnya. Syaikh Sulaimi memiliki seorang anak di Jizan yang menjabat sebagai imam masjid pada sebuah masjid di wilayah itu.

Sampai di rumah, makanan telah menunggu. Syaikh Sulaimi datang disertai enam orang warga Khurasan yang berumrah. Semuanya tinggal di rumah Syaikh Syam’un. Mereka menunggu kedatangan dua ulama itu untuk memulai sarapan pagi. “Sejak sebelum subuh perutku sudah kupenuhi air Zamzam,” kata Syaikh Sulaimi.

Syaikh Sulaimi dan rombongan sudah akan pulang meninggalkan Mekah. Beberapa ekor unta sudah siap mengikuti perintah tuannya. Syaikh Sulaimi kemudian menemui Syaikh Syam’un. “Syaikh, saya bisa menitip sesuatu untuk anak saya Hammad di Jizan. Tolong antum simpan karena isinya berharga. Ada emas berlian untuk mas kawin perkawinan dia nanti.”

Syaikh Syam’un menerimanya. Agar barang ini aman, Syaikh Syam’un menyimpannya di suatu tempat yang sangat dirahasiakan. Ia memegang sendiri bungkusan yang cukup berat. Konon, ada emas permata serta sejumlah uang dinar dan dirham.

Syaikh Syam’un mengantar tamunya hingga hilang dari pandangan. Syaikh Sulaimi duduk di atas sekedup untanya dikawal beberapa teman.

Dua hari kemudian, Syiakh Syam’un sakit mendadak dan kemudian wafat. Jenazahnya dikebumikan di komplek pemakaman Ma’la, setelah disalatkan di Masjidil Haram oleh warga Mekah.

Ruh di Zamzam

Setelah tujuh hari perkabungan Syaikh Syam’un, Hammad, putera Syaikh Sulaimi datang. Ia kaget mendengar Syaikh Syam’un wafat. Almarhum sudah dianggap seperti ayahnya sendiri. Ia akrab dengan anak-anak Syaikh Syam’un dan sudah seperti saudara sendiri. Terutama dengan Ubab, putera sulung Syaikh Syam’un yang kini menjadi pengganti almarhum.

Kepada Ubab pula Hammad menanyakan titipan Syaikh Sulaimi. Tapi, Ubab tidak tahu. Ubab mencoba mencari dan membongkor semua tumpukan kitab-kitab milik Syaikh Syam’un. Tapi, tak tertemukan juga. Ubab berpikir, ini amanat. Sebagai anak ia juga memiliki kewajiban menyampaikan amanat kepada yang berhak.

Maka ia kemudian menemui ulama-ulama tua di Mekah. “Anakku, aku pernah mendengar, orang-orang saleh terdahulu selalu mengatakan bahwa ruh orang-orang baik dikumpulkan Allah di sumur Zamzam. Datanglah dan bacalah Al-Quran dan tahlil, tahmid, dan tasbih di sana. Insya Allah ayahmu akan memberitahukan di mana benda itu disimpan,” kata ulama sepuh ini.

Ubab mendatangi sumur Zamzam dan berdoa di situ untuk bisa mendapat pemberitahuan di mana benda itu disimpan. Namun, hingga sebulan ia di sana tak juga ada jawaban. Kembali ia mendatangi ulama tua Mekah tadi.

“Aku sangat tidak yakin,” kata ulama sepuh itu. “Sebab, jika tidak ada di sumur Zamzam maka ada salah satu tempat ruh yaitu di Yaman. Tapi, maaf, ini tempat ruh jahat. Saya tidak menuduh ayahmu jahat. Tapi, mungkin saja ruh itu di sana.”

Didasari semangat tinggi untuk bisa menunaikan amanat ayahnya itu, ia datang ke sebuah lembah di Yaman. Lembah itu sangat terkesan angker. Hampir tak ada tanda-tanda kehidupan. Burung pun enggan singgah di sana. Ada pohon satu dua yang mulai meranggas. Matahari begitu terik tanpa ampun mendera siapa pun yang datang ke lembah itu.

Ubab membaca surah Yasin dan surah-surah pendek lainnya dan dilanjutkan membaca tahlil, tahmid, tasbih, dan istigfar.

Tiba-tiba ia mendengar suara. “Engkau datang anakku.” Ubab menoleh ke arah suara itu tapi, tak ada siapa pun. “Engkau pasti ada sesuatu yang membutuhkanku,” kata suara itu yang diduga suara almarhum Syaikh Syam’un.

“Benar ayah, Hammad putera Syaikh Sulaimi datang meminta titipan ayahnya melalui ayah,” kata Ubab.

“Benar anakku. Itu pula yang menjadikanku tidak tenang di alam Barzakh. Amanat itu menjadi bebanku dan itu pula yang mungkin salah satunya yang menjadikan aku harus tinggal di sini, tidak di sumur Zamzam.”

Dengan cara memberi petunjuk yang jelas, Syaikh Syam’un memberi tahukan tempat penyimpanan barang itu.

“Tapi, ayah, kenapa engkau dikumpulkan di sini bersama ruh-ruh jahat?” tanya Ubab.

“Mungkin juga karena amanat itu yang belum aku sampaikan. Tapi, pernah malaikat mengatakan kepadaku, bahwa aku dikumpulkan di lembah Yaman ini karena aku sudah tak pernah lagi bersilaturrahmi, terutama dengan kerabatku di Khurasan.”

(Musthafa Helmy-Pemimpin Umum Majalah Risalah NU)

TIDAK ADA KOMENTAR

Tulis Komentar

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.