Beranda Sufi Style

Tiga Alasan Seseorang Memilih Jalan Bertasawuf

BERBAGI
Focus Group Discussion NU Jawa Barat [awis saepuloh]

Bandung-berita9online, Guru Besar Tasawuf UIN SGD Bandung Prof. Dr. H. Mukhtar Solihin, M.Ag., mengatakan ada tiga alasan seseorang memilih jalan bertasawuf, yaitu; Pertama, tasawuf merupakan basis fitri setiap manusia. Ia merupakan potensi Ilahiyah yang berfungsi mendesain peradaban dunia. Tasawuf dapat mewarnai segala aktivitas sosial, politik, ekonomi dan kebudayaan
Kedua, tasawuf berfungsi alat pengendali, agar dimensi Kemanusiaan tidak ternodai oleh modernisasi yang mengarah dekadensi moral dan anomali nilai, sehingga tasawuf mengantarkan pada “supreme morality” (unggul moral)
Ketiga, tasawuf relevansi dengan problema manusia, karena tasawuf secara seimbang memberi kesejukan batin dan disiplin syari’ah sekaligus.

Selain itu, Tasawuf dapat membentuk tingkah laku melalui pendekatan tasawuf suluki, dan dapat memuaskan dahaga intelektual melalui pendekatan tasawuf falsafi.

Ia bisa diamalkan tiap muslim lapisan manapun. Secara fisik mereka menghadap satu arah (Ka’bah), dan secara rohaniah mereka berlomba menempuh jalan (tarekat) melewati ahwal dan maqam menuju Tuhan yg Satu, Allah SWT.

Prof. Mukhtar Solihin berpendapat, sejarah perkembangan tarekat secara garis besar melalui tiga tahap yaitu : tahap khanaqah, tahap thariqah dan tahap tha’ifah.

Pertama, Tahap khanaqah (pusat pertemuan sufi), dimana syekh mempunyai sejumlah murid yang hidup bersama-sama dibawah peraturan yg tidak ketat, syekh menjadi mursyid yg dipatuhi. Kontemplasi dan latihan-latihan spiritual dilakukan secara individual dan secara kolektif. Ini terjadi sekitar abad X Masehi. Gerakan ini mempunyai masa keemasan tasawuf.

Kedua, Tahap thariqah berkembang sekitar abad XIII M. Di sini sudah terbentuk ajaran-ajaran, peraturan dan metode tasawuf. Pada masa inilah muncul pusat-pusat yang mengajarkan tasawuf dengan silsilahnya masing-masing. Berkembanglah metode-metode kolektif baru untuk mencapai kedekatan diri kepada Tuhan. Disini tasawuf telah mencapai kedekatan diri kepada Tuhan, dan disini pula tasawuf telah mengambil bentuk kelas menengah.

Ketiga, Tahap tha’ifah terjadinya pada sekitar abad XV M. Di sini terjadi transisi misi ajaran dan peraturan kepada pengikut. Pada masa ini muncul organisasi tasawuf yang mempunyai cabang di tempat lain. Pada tahap tha’ifah inilah tarekat mengandung arti lain, yaitu organisasi sufi yang melestarikan ajaran syekh tertentu. Terdapatlah tarekat-tarekat seperti Tarekat Qadiriyah, Tarekat Naqsyabandiyah, Tarekat Syadziliyah, dan lain-lain.

Hal tersebut disampaikan oleh Prof. Mukhtar Solihin  dalam rangka peringatan Harlah NU ke-93, NU Jawa Barat yang diinisiasi oleh Pergunu, Lakpesdam dan Lesbumi NU Jawa Barat mengadakan FGD (Forum Group Discussion) tentang “Thoriqoh Dalam Pandangan Mbah Hasyim Asy’ari” di RuangRapat PWNU Jawa Barat Jl. Terusan Galunggung No. 09 Bandung, Sabtu, 23 /4/2016.

[awis saepuloh]

Tulis Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.