Tasawuf Merajut Kebersamaan dengan Ilahi

BERBAGI
sufigb
fanpop.com
sufigb
fanpop.com

Banyak muslim asal muslim. Banyaknya ragam muslim tersebut bila ditilik secara ekstrem dengan perspektif rukun Islam terdapat dua ekstrem, yakni muslim aku-aku dan muslim sejati. Muslim aku-aku adalah muslim yang cuma mengaku bersyahadat, tapi tak pernah shalat, puasa, zakat, apalagi haji dan baca Al-Quran. Muslim semacam ini kadang-kadang setahun sekali shalat yakni shlalat idul fitri saja, dan puasanya pas hari pertama Ramadhan, dan zakat fitrahnya dibayar kalau pas lagi mau. Adapun muslim sejati adalah muslim yang fasih baca Quran hafal sejumlah hadits, shalat lima waktu, puasa Ramadhan sebulan penuh, membayar zakat, pergi haji jika perlu setiap tahun, dan banyak mengerjakan amalan sunnah maupun amal sosial lainnya, akhlaknya begitu terpuji, tidak tamak terhadap harta dan tidak sombong atas status sosial ekonominya.

Kalangan intelektual dan politisi juga menyebut muslim dengan aneka sebutan berdasarkan persepsi mereka atas fenomena dan pola perilaku muslim di tengah masyarakat. Mereka menyebut muslim dengan menisbatkan pada agamanya sehingga timbul sebutan misalnya Islam politik, Islam radikal, Islam ekstrem, Islam moderat, Islam aktual, Islam kultural, Islam eksklusif, Islam inklusif dan sebagainya.

Mengapa timbul banyak sebutan terhadap muslim? Tentu saja banyak sebab yang melatarbelakangi baik terkait dengan pengaruh sosial, kultural, politik, ideologi, maupun  ekonomi. Namun, yang pasti mereka semua dapat dikatakan ber-Islam tanpa penghayatan. Padahal, sesuai ajaran Al-Quran, Islam menganjurkan agar setiap muslim masuk Islam secara kaffah (total dan sempurna), tidak seserpih-serpih. Bahkan, Islam menganjurkan agar setiap muslim membaca, mengkaji, menghayati, dan mengamalkan segenap ajaran Al-Quran. Dengan begitu ia akan menjadi muslim yang kaffah, yang dalam kesehariannya tidak berbuat keji dan mungkar melainkan berbuat yang sebaliknya, dalam segala hal.

Firman Allah ta’ala yang artinya, “Inilah ayat-ayat Al Qur’an yang mengandung hikmah, menjadi petunjuk dan rahmat bagi muhsinin (muslim yang ihsan), (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka yakin akan adanya negeri akhirat. Mereka itulah orang-orang yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhannya dan mereka itulah orang-orang yang beruntung” (QS Lukman [31]:2-5)

”...Sekiranya kalau bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya, niscaya tidak ada seorangpun dari kamu yang bersih (dari perbuatan keji dan mungkar) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa saja yang dikehendaki…” (QS An-Nuur:21)

“Sesungguhnya Kami telah mensucikan mereka dengan (menganugerahkan kepada mereka) akhlak yang tinggi yaitu selalu mengingatkan (manusia) kepada negeri akhirat. Dan sesungguhnya mereka pada sisi Kami benar-benar termasuk orang-orang pilihan yang paling baik.  (QS Shaad [38]:46-47)

Berdasarkan ayat-ayat tersebut, seorang penganut Islam sangat dianjurkan untuk bisa membaca Al-Quran, mengkaji, menghayati dan mengamalkan ajarannya agar menjadi muslim yang beruntung. Bukan hanya beruntung saja, melainkan ia akan menjadi muslim yang bersih dari segala nista dan terpuji karena berakhlak tinggi. Bahkan menjadi muslim terbaik pilihan Tuhan. Derajat ini tidak akan bisa dicapai kecuali ia menempuh thariqot tasawuf (jalan kesucian).

Tasawuf

Apakah tasawuf itu? Tasawuf adalah jalan untuk mencapai muslim yang ihsan, yakni muslim yang merasa setiap gerak-gerik dan tindak-tanduknya selalu diawasi Allah. Muslim yang ihsan itu adalah sufi, yakni muslim yang menempuh jalan kesucian. Sufi selalu menjaga setiap gerak-gerik dan tindak-tanduknya dari segala hal yang keji dan mungkar, tidak berani menerjang segala hal yang dilarang Allah. Sufi hanya berbuat menurut apa yang diperintahkan Allah. Agar mampu menjaga sikap, perkataan, dan perbuatannya yang sedemikian itu secara konsisten, sufi selalu berdzikir (mengingat Allah) dengan segenap pikiran dan perasaannya.

Sebuah hadits yag menjadi landasan utama tasawuf adalah hadits yang diriwayatkan Muslim, sebagai berikut:   Datang seorang laki-laki kepada Rasulullah dan laki-laki itu bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apakah Islam itu? ‘ Beliau menjawab, ‘Islam adalah kamu tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apa pun, mendirikan shalat, membayar zakat, dan berpuasa Ramadlan.’ Dia berkata, ‘Kamu benar.’ Lalu dia bertanya lagi, ‘Wahai Rasulullah, apakah iman itu? ‘ Beliau menjawab, ‘Kamu beriman kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-Nya, beriman kepada para Rasul-Nya, beriman kepada hari kebangkitan, beriman kepada takdir-Nya, dan beriman kepada pertemuan dengan-Nya’. Dia berkata, ‘Kamu benar’. Lalu dia bertanya lagi, ‘Wahai Rasulullah, apakah ihsan itu? ‘ Beliau menjawab, ‘Kamu khusyu kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya (bermakrifat), dan jika kamu tidak melihat-Nya (bermakrifat) maka sesungguhnya Dia melihatmu. Sesudah itu, laki-laki itu meninggalkan Rasulullah, dan para sahabat pun bertanya, ‘Siapa dia wahai Rasulullah?’ Jawab Nabi, ‘Dia adalah Jibril’.  (HR Muslim)

Berdasarkan hadits tersebut, ajaran Islam terdiri dari 3 pokok ajaran sebagaimana yang disampaikan malaikat Jibril yakni Islam, Iman, dan Ihsan. Sufi atau muslim yang ihsan adalah  muslim yang meyakini bahwa dirinya selalu berada dalam pengawasan Allah, yang bermakrifat, melihat Allah Azza wa Jalla dengan hatinya (ain bashiroh). Sufi semacam ini selalu mencegah dirinya dari melakukan sesuatu yang dibenci Allah,  dari perbuatan keji dan mungkar, tidak berbuat laku maksiat sehingga ia berakhlakul karimah. Inilah tujuan Rasulullah diutus oleh Allah ta’ala. “Sesungguhnya aku diutus (Allah) untuk menyempurnakan akhlak.” (HR Ahmad). Tujuan kerasulan Muhammad adalah melahirkan sufi-sufi. Tujuan beragama adalah memperagakan keteladanan akhlak yang paling mulia. Muhammad SAW sendiri adalah teladan akhlah yang paling mulia itu.

Firman Allah ta’ala yang artinya, “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan banyak menyebut Allah”. (QS Al-Ahzab:21)

Salah satu amal utama sufi ialah setiap detik selalu berdzikir, menyebut Allah, dengan lisannya, dengan bagian-bagian dari segenap badannya, dengan pikirannya, dengan hatinya, dan bahkan dengan nafasnya. Berdzikir menyebut nama Allah dalam setiap detik yang dilewatinya membuat hubungan seorang sufi dengan Allah tak pernah terputus, ia begitu dekat dan selalu bersama Allah di mana saja dan kapan saja.

Kenalilah Sufi dengan Benar

Sebelum belajar ilmu tasawuf, Imam Ahmad bin Hambal menegaskan kepada putranya, Abdullah ra. “Hai anakku, hendaknya engkau berpijak pada hadits. Anda harus hati-hati bersama orang-orang yang menamakan dirinya kaum Sufi, karena kadang di antara mereka ada sufi yang sangat bodoh dengan agama.” Namun ketika beliau berguru kepada Abu Hamzah al-Baghdady as-Shufy, dan mengenal perilaku kaum Sufi, tiba-tiba dia berkata pada putranya “Hai anakku hendaknya engkau bermajelis dengan para Sufi, karena mereka bisa memberikan tambahan bekal pada kita, melalui ilmu yang banyak, muroqobah, rasa takut kepada Allah, zuhud, dan himmah yang luhur (robbaniah Allah)” Beliau mengatakan, “Aku tidak pernah melihat suatu kaum yang lebih utama ketimbang kaum Sufi.” Lalu Imam Ahmad ditanya, “Bukankah mereka sering menikmati sama’ dan ekstase?” Imam Ahmad menjawab, “Dakwah mereka adalah bergembira bersemangat bersama Allah dalam setiap saat…”

Imam Nawawi ~rahimahullah~ berkata, “ Pokok-pokok metode ajaran tasawwuf ada lima: Taqwa kepada Allah di dalam sepi maupun ramai, mengikuti sunnah di dalam ucapan dan perbuatan, berpaling dari makhluk di dalam penghadapan maupun saat mundur, ridha kepada Allah atas pemberian-Nya baik sedikit ataupun banyak, dan selalu kembali pada Allah saat suka maupun duka “. (Risalah Al-Maqoshid fit Tauhid wal Ibadah wa Ushulut Tasawwuf, hlm 20, Imam Nawawi).

Muslim yang ihsan adalah sufi yang berakhlakul karimah dan shaleh. Indikasi keshalehannya adalah ia selalu mentaati Allah dan RasulNya, muslim yang telah meraih maqom tinggi di sisi-Nya, yang telah diberi ni’mat oleh Allah Azza wa Jalla sehingga selalu berada dalam kebenaran, selalu berada pada jalan yang lurus. Hanya ada 4 golongan muslim yang meraih maqom tinggi di sisi-Nya yakni para Nabi dan Rasul, para Shiddiqin, para Syuhada dan para Shalihin. Firman Allah ta’ala yang artinya, “Dan barangsiapa yang menta’ati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni’mat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang shaleh; dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya .” (QS An Nisaa [4]: 69)

Muslim yang berhasil meraih maqom tinggi di sisi-Nya kerap disebut sebagai kekasih Allah (wali Allah) yang bermakrifat, yang membenarkan dan menyaksikan Allah dengan hatinya (ain bashiroh). Ubadah bin as-Shamit ra. berkata, bahwa Rasulullah SAW berkata: “Seutama-utama iman seseorang, ialah jika ia telah mengetahui (menyaksikan) bahwa Allah selalu bersamanya, di mana pun ia berada.” Rasulullah SAW bersabda pula, “Iman paling afdhal ialah apabila kamu mengetahui bahwa Allah selalu menyertaimu di manapun kamu berada.” (HR Ath-Thobari)

Imam Ali karromallahu wajhah pernah ditanya oleh seorang sahabatnya bernama Zi’lib Al-Yamani, “Apakah Anda pernah melihat Tuhan?”
Beliau menjawab, “Bagaimana saya menyembah yang tidak pernah saya lihat?”
“Bagaimana Anda melihat-Nya?” tanyanya kembali.
Sayyidina Ali ra menjawab “Dia tak bisa dilihat oleh pandangan kasat mata tetapi bisa dilihat oleh hati.”

Sebuah riwayat dari Ja’far bin Muhammad, dia ditanya: “Apakah engkau melihat Tuhanmu ketika engkau menyembah-Nya?” Dia menjawab: “Saya telah melihat Tuhan, yang baru saja saya sembah”. Bagaimana engkau melihat-Nya? dia menjawab: “Allah tidak terlihat oleh pandangan mata, tapi Allah dapat dilihat dengan hati yang penuh iman. Jika engkau belum dapat bermakrifat, maka yakinlah bahwa Allah Azza wa Jalla melihat kita.” Rasulullah SAW bersabda, “Jika seseorang dari kalian berdiri shalat sesungguhnya dia sedang berhadapan dengan Rabbnya.”   (HR Bukhari 390)

Shalat sebagai Wahana Melihat Allah

Diri manusia terdiri dari jasmani dan ruhani.Jasmani merupakan wahana bagi ruhani untuk mencapai penyaksian kepada Allah. Dengan kata lain, yang dilihat oleh bukan jasmani melainkan ruhani. Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada tubuh dan rupa kalian, akan tetapi Allah melihat kepada hati kalian.”  (HR Muslim)

Ketika sesorang menjalankan sholat, secara dzahir kita dapat melihat adanya gerakan badan (jasmani)  namun Allah Azza wa Jalla akan melihat hati (ruhani) manusia adakah mereka lalai dalam sholat.  Apakah mereka mencapai apa yang dikatakan oleh Rasulullah bahwa “Ash-shalatul Mi’rajul Mu’minin“, “sholat itu adalah mi’rajnya orang-orang mukmin“.

Mi’raj manusia, naiknya jiwa (ruhani) meninggalkan ikatan nafsu yang terdapat dalam fisik (jasmani) manusia menuju ke hadirat Allah ta’ala.

Dalam sebuah hadist Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. bersabda: “Sesungguhnya kalian apabila sholat maka sesungguhnya ia sedang bermunajat (bertemu) dengan Tuhannya, maka hendaknya ia mengerti bagaimana bermunajat (bertemu) dengan Tuhan

Allah ta’ala berfirman yang artinya,
Sesungguhnya sholat itu memang berat kecuali bagi mereka yang khusyu’ yaitu mereka yang yakin akan berjumpa dengan Tuhan mereka, dan sesungguhnya mereka akan kembali kepadaNya”. (QS. Al-Baqarah 2 : 45).

… maka sembahlah Aku dan dirikanlah sholat untuk mengingat Aku.”  (QS  Thaha 20: 14)

waladzikrulaahi akbaru
Sholat adalah dzikrullah (mengingat Allah)  yang utama” (Al Ankabut [29]: 45)

Jadi dapat kita simpulkan bahwa mi’raj (kendaraan/cara) kaum muslimin untuk sampai ke hadirat Allah Azza wa Jalla  adalah dengan dzikrullah dan yang lebih utama adalah dengan sholat.

Dzikrullah (mengingat Allah) adalah yang membawa kita bertemu dengan Allah Azza wa Jalla sehingga kita dapat memandang Allah Azza wa Jalla dengan hati .

Rasulullah bersabda,  “Kamu menyembah Allah seolah-olah melihat-Nya dan bila kamu tidak melihat-Nya sesungguhnya Dia melihatmu.” (HR Muslim).

Oleh karena itu, mereka yang bermakrifat atau mereka yang dapat memandang Allah ketika di dunia, bagi mereka dzikrullah dan shalat adalah kesenangan untuk memandang Allah, sebagaimana riwayat Anas RA, Rasulullah SAW berkata “kesenanganku dijadikan dalam shalat” (HR Ahmad dan Al Nasa’i). Bagi mereka yang bermakrifat, panggilan adzan adalah panggilan yang menyenangkan karena tibanya waktu untuk bertemu dengan Allah.

Bertasawuf dengan Benar

Seorang sufi adalah muslim. Artinya, bila ada seorang berperilaku seperti sufi tapi ia tidak menjalankan syariat Islam, maka ia bukanlah sufi. Bagaimana bertasawuf dengan benar? Kita harus meneladani para sufi yang shiddiq, syahid, dan shaleh. Imam Syafi’i ~rahimahullah~ menasehatkan agar kita mencapai keshalehan sebagaimana para salafu shaleh yakni dengan menjalankan perkara syariat sebagaimana yang mereka sampaikan dalam kitab fiqih dan sekaligus menjalankan tasawuf.  Imam Syafi’i berkata, “Berupayalah engkau menjadi seorang yang mempelajari dan mengamalkan ilmu fiqih (menjalani syariat) dan sekaligus juga menjalani tasawuf, dan janganlah kau hanya mengambil salah satunya. Demi Allah, sesungguhnya saya benar-benar ingin memberikan nasehat ini  kepadamu. Bahwa orang yang hanya mempelajari ilmu fiqih (menjalani syariat) tapi tidak mau menjalani tasawuf, maka hatinya tidak dapat merasakan kelezatan takwa. Sedangkan orang yang hanya menjalani tasawuf tapi tidak mau mengamalkan ilmu fiqih, maka bagaimana bisa dia menjadi muhsin (muslim yang ihsan)?” [Diwan Al-Imam Asy-Syafi’i, hlm. 47]

Begitu pula Imam Malik ~rahimahullah~ menasehatkan agar kita menjalankan perkara syariat sekaligus menjalankan tasawuf agar tidak menjadi manusia yang rusak (berakhlak buruk terhadap Allah dan segala ciptaan-Nya). Imam Malik menyampaikan nasihat, “Siapa yang bertasawuf tanpa berfiqih (menjalankan syariat), maka sesungguhnya ia zindiq (tersesat jalannya), sementara siapa yang berfiqih tanpa mengamalkan tasawuf, maka sesungguhnya ia fasiq (rusak keimanannya). Hanya dia yang memadukan keduanya terjamin benar.”

Jadi, kalau ditemukan ada seorang yang baik sikapnya dan tutur katanya tapi ia tidak menjalankan syariat Islam sebagaimana ditunjukkan dalam ilmu fiqih, umpamanya ia tidak sholat atau sholat tanpa pakaian yang sopan menutup aurat atau menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal, maka dia jelas bukan sufi melainkan kafir zindiq. Dia baik tapi tak patut diperhatikan perkataannya, apalagi ditiru perilakunya.

Berkata Imam Abu Yazid al Busthami, “Kalau kamu melihat seseorang yang diberi keramat sampai ia terbang di udara, jangan kamu tertarik kepadanya, kecuali kalau ia melaksanakan perintah agama, menghentikan larangan agama dan membayarkan sekalian kewajiban syariat agama.”

Meyakini Kebersamaan dengan Allah

Muslim yang menyaksikan Allah dengan hati (ain bashiroh) adalah muslim yang selalu meyakini kehadiran-Nya, selalu sadar akan kedekatan-Nya dan senantiasa ingat kepadaNya. Imam Qusyairi berkata, “Asy-Syahid (orang yang menyaksikan Allah) selalu merasa dan menunjukkan sesuatu hadir dalam hatinya, yaitu sesuatu yang membuatnya selalu sadar dan berdzikir, sehingga seakan-akan pemilik hati tersebut senantiasa melihat dan menyaksikan-Nya, sekalipun Dia tidak tampak. Dalam diri setiap Syahid, hatinya selalu menguasai ingatannya.

Allah ta’ala berfirman dalam hadist Qudsi yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Ibnu ’Umar r.a.: “Sesungguhnya langit dan bumi tidak akan/mampu menampung Aku. Hanya hati orang beriman yang sanggup menerimanya.

Syaikh Abdul Qadir Al-Jailany menyampaikan, “mereka yang sadar diri senantiasa memandang Allah Azza wa Jalla dengan qalbunya, ketika terpadu jadilah keteguhan yang satu yang menggugurkan hijab-hijab antara diri mereka dengan Diri-Nya. Dalam keadaan seperti itu, semua bangunan runtuh dan yang tinggal hanya maknanya. Seluruh sendi-sendi putus dan segala milik menjadi lepas, tak ada yang tersisa selain Allah. Tak ada ucapan dan gerak bagi mereka, dan tak ada pula kesenangan bagi mereka, hingga semua itu jadi benar. Jika sudah benar, sempurnalah semua perkara baginya. Pertama yang mereka keluarkan dari dirinya adalah segala perbudakan duniawi kemudian mereka keluarkan segala hal kecuali Allah secara total dan selanjutnya terus demikian dalam menjalani ujian-ujian di Rumah-Nya hingga ia lulus dan terpuji di mata Allah.”**    zon-shoelhi

TIDAK ADA KOMENTAR

Tulis Komentar

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.