Keberkahan Rizki dan Cara Memperolehnya

BERBAGI
gbsedekah
facebook.com
gbsedekah
facebook.com

Kegalauan kerap menghinggapi perasaan orang yang berada dalam ketidakpastian. Perempuan dewasa yang masih sendiri galau apakah ia bakal punya suami yang sanggup memabahagiakannya. Orang yang berpenghasilan pas-pasan galau apakah ia bakal bisa hidup berumah tangga sewajarnya. Pegawai golongan rendah juga galau apakah kelak ia bisa menyekolahkan semua anaknya mengingat biaya pendidikan sangat tinggi. Penguasaha yang menghadapi situasi krisis dan tidak menentu galau apakah usahanya bisa bertahan. Capres-cawapres galau apakah ia bisa memenangkan pemilu. Semua ini menunjukkan bahwa setiap orang ingin mendapatkan rizki yang penuh berkah  Rizki dalam arti luas mencakup berbagai aspek, tidak hanya berupa kekayaan harta belaka, melainkan juga berupa jodoh, penghasilan, kedudukan, keselamatan, kesuksesan meraih cita-cita, dan sebagainya.

 

Kegalauan yang menghinggapi banyak orang pada umumnya terkait dengan perolehan, pendapatan, kecukupan atau kekayaan harta. Bahkan orang yang sudah kaya pun tetap galau apakah ia bisa terus mempertahankan atau menambah kekayaannya, atau kekayaannya akan semakin berkurang. Jika orang kaya saja galau, maka bisa dimengerti betapa galaunya orang yang berpenghasilan pas-pasan atau orang yang bekerja serabutan dengan penghasilan minim yang setiap hari harus menafkahi anak dan isterinya dengan nafas kembang-kempis.

 

Bahkan sering kita dengar keluhan seorang pegawai, “Saya memiliki penghasilan tapi cuma numpang lewat, artinya begitu menerima gaji, uang sudah terbagi ke dalam pos-pos keperluan setiap bulan, namun pada saat-saat tertentu saya terkadang tidak memiliki cukup uang untuk memenuhi undangan atau menjenguk tetangga yang sakit.” Pada sisi lain, terkadang kita temukan juga orang yang hidupnya sederhana namun merasa kaya dan segala kebutuhannya tercukupi. Walaupun kondisi kantongnya kembang kempis, ia tak pernah mengeluh dan alhamdulillah ia bisa melewati setiap bulan dengan selamat.

 

Begitulah sifat rizki berada di tangan mereka yang menggegnggamnya, ada yang membawa keberkahan, dan ada pula yang kurang atau sama sekali tidak memberikan keberkahan.

 

Keberkahan rizki

Cara memperoleh rizki dan mengatur penggunaannya kerap menjadi problematika tersendiri. Tidak sedikit orang mencari rizki dengan segala cara, tak peduli halal-haram. Begitu juga dalam hal menggunakannya, rizki digunakan untuk berinfak dan juga berlaku maksiat. Kadang pula ia tak peduli harus meminta atau berhutang tatkala ia kehabisan uang untuk memenuhi kebutuhannya.  Orang semacam ini tergolong penganut pikiran fatalistik, jika ia punya rizki ia gunakan sesukanya, dan bila tak punya rizki ia berhutang kanan-kiri walau tak tahu bagaimana mengembalikannya, agunan pun ia  tak punya. Bila tak berhasil, maka ia mengambil barang orang lain, atau memaksa teman untuk menjual barangnya, atau sabet kanan-kiri sedapatnya. Ada lagi mereka yang menganut pola pikir fungsional, mereka kreatif dalam hal cara mencari rizki dengan berbagai cara hingga ia memperolehnya, tetapa rizki itu ia gunakannya untuk memenuhi apa saja yang dibutuhkan dan diinginkan meski tak jelas manfaatnya. Rizki yang dicari dan diterima mereka ini boleh dikatakan rizki yang tidak berkah.

 

Sebagai ilustrasi, ada seorang teman berprofesi sebagai penegak hukum yang pendapatannya cukup besar, di atas rata-rata. Selain gaji bulanan, ia juga punya objekan (baca: penghasilan sampingan yang cukup lumayan), tetapi sebelum akhir bulan kantongnya sudah ludes. Setiap bulan banyak saja pengeluaran yang harus dikeluarkan, seperti misalnya ketika mobilnya harus ‘turun mesin’, barang-barangnya rusak atau hilang dicuri orang, atau membeli barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan, dan atau tiba-tiba ia harus membayar dokter karena sakit, dan banyak lagi pengeluaran lainnya sehingga ia tidak pernah bisa menabung, dan malah memiliki banyak hutang. Sungguh percuma memiliki harta yang banyak tetapi tidak berkah, kalau si empunya jatuh sakit dan banyak biaya harus dibayarnya, dan banyak musibah yang harus ditanggungnya, membuat semua jerih payah seperti sia-sia belaka. Ini menunjukkan bahwa rizki yang tidak berkah. Meski banyak rizki namun tak membuatnya mampu mencukupi semua kebutuhan dan keinginan, bahkan bukan mustahil dapat menimbulkan petaka.

 

Yang paling beruntung adalah mereka yang berpikiran transendental. Bahwa konsep rizki tak dapat dilepaskan dari intervensi peran dari Sang Pemberi Rizki. Bagi mereka berlaku keyakinan bahwa seseorang yang beruaha mencari rizki dan menggunakannya secara halal, pasti akan memperoleh rizki sebagaimana layaknya. Kadang bagi mereka berlaku adagium, rizki dicari rizki pergi, rizki tak dicari rizki mendatangi. Itulah sebabnya mereka mencari rizki atas dasar perintah ilahi, sesuai dengan cara-cara yang ditentukannya, yakni cara yang halal. Adapun hasil pencarian itu ia serahkan kepada-Nya. Begitu juga dalam hal penggunaannya ia ikuti sesuai petunjuk-Nya yakni untuk memberi nafkah mereka yang menjadi tanggungannya, membayar zakat dan bersedekah, serta untuk bekal beribadah. Mereka dapat memenuhi segala kebutuhan dan hajat hidupnya secara berkecukupan dengan rizki penuh berkah.

 

Sebagai ilustrasi, ada seorang sahabat berprofesi sebagai guru swasta, dengan penghasilan Rp 1.400.000 perbulan, walau hampir sama dengan UMR, gaji tersebut terbilang sangat minimi apa lagi ia harus menafkahi isteri dan dua orang anaknya. Tapi alhamdulillah, dia selalu bersyukur atas apa saja yang dianugerahkan Allah kepadanya, tidak lupa ia mengeluarkan zakat 2,5% setiap bulan. Ternyata, sungguh luar biasa sahabat ini, ia kerap mendapat penghasilan tambahan yang tak pernah disangka-sangka dari orang-orang yang meminta bantuan les privat kepadanya, ia tumbuh sehat dan kuat, tak pernah mengeluh malah tetap bersemangat, ia tidak pernah kekurangan, bahkan ia sanggup menyisihkan sebagian rizkinya untuk ibunya dan mampu mengambil kredit motor dan rumah. Inilah rizki yang berkah yang membawa manfaat besar bagi pemiliknya. Dengan rizki yang berkah, mereka terjaga dari perbuatan-perbuatan yang dilarang oleh Allah SWT. Mereka diberikan kelapangan dalam memperoleh rizki dan memanfaatkannya.

Kalau diibaratkan sebuah laporan neraca rugi/laba, rizki yang berkah adalah pendapatan bersih yang diterima setelah biaya-biaya tidak terduga dan biaya pajak. Rizki yang berkah adalah pendapatan bersih (net). Sedangkan rizki yang tidak berkah ibarat pendapatan kotor (gross) sebelum berbagai biaya yang harus dikeluarkan dan dipotong pajak. Lantas, maksudnya apa rizki yang berkah itu? Yaitu, rizki yang diberikan Allah tanpa pemotongan biaya, semua biaya ditanggung Allah, maksudnya seperti contoh rizki yang diperoleh orang yang berprofesi guru swasta itu. Sedangkan rizki yang tidak berkah adalah rizki yang tidak pernah bisa mencukupi dan bahkan menimbulkan banyak biaya. Rizki berkah itu adalah rizki bersih, sedang rizki tidak berkah adalah rizki kotor yang akan dikurangi oleh aneka biaya, termasuk biaya-biaya tidak terduga.

Menurut pendapat para ahli hikmah, keberkahan rizki tidak terletak pada jumlahnya atau banyaknya, melainkan lebih ditentukan oleh cara memperolehnya dan alokasi penggunaannya. Biar pun rizki yang diterima relatif sedikit, tetapi halal cara memperolehnya, dan benar alokasi penggunaannya, artinya rizki itu digunakan untuk hal-hal yang bermanfaat, bukan untuk berbuat maksiat, maka rizki itu akan membawa berkah, bahkan bila kurang jumlahnya untuk memenuhi aneka kebutuhan, rizki tambahan akan datang dari arah mana saja yang tak pernah disangka-sangka sebelumnya. Mengenai datangnya rizki ‘misterius’ ini banyak orang yang tidak mempercayainya, karena mereka menyikapi hidup ini dengan pola pikir matematis. Mereka berandai-andai, andai rizki misterius itu benar adanya, maka pasti hal itu disertai sebab-musabab yang pasti juga adanya.

 

Cara memperoleh keberkahan rizki

Bagaimana cara memperoleh rizki yang penuh berkah? Pertanyaan inilah yang kerap diajukan mereka yang mendambakan keberkahan. Pertama, cara yang digunakan hendaklah cara yang halal. Kedua, pemanfaatannya ditujukan untuk kebutuhan seperlunya saja. Artinya, tidak digunakan secara boros atau untuk berfoya-foya. Ketiga, menerima rizki berapapun besarnya selalu disertai dengan sikap bersyukur. Keempat, membayar zakatnya bila memenuhi nasabnya. Kelima, rizki dibelanjakan di jalan yang benar, sebagian disisihkan untuk bersedekah atau berinfak berapapun kecilnya untuk membantu kesusahan orang lain. Keenam, selalu bersikap qona’ah (merasa cukup), tidak memandang rizki atau materi sebagai tujuan hidup yang harus diperjuangkan dengan segala cara dan daya upaya. Ketujuh, mencari rizki tanpa melalaikan kebajikan lainnya seperti m,endirikan shalat, membaca Al-Quran, tasbih, dan asmaul husna, atau mengamalkan wirid lainnya. Kedelapan, selalu berprasangka baik kepada Allah disertai doa-doa dengan penuh harap.

Adapun ayat-ayat al-Quran dan hadits yang berkaitan dengan keberkahan rizki atau sumber-sumber keberkahan rizki, antara lain sebagai berikut:

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu.” (QS 28 : 77). “Hai kaumku, cukupkanlah takaran dan timbangan dengan adil, dan janganlah kamu merugikan manusia terhadap hak-hak mereka.” (QS 11 : 85).

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu.” (QS 4 : 29). “Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menghamba.” (QS 2 : 172). “Jika kamu bersyukur, sungguh akan Aku tambahkan nikmat-Ku bagimu, dan jika kamu ingkar,  sesungguh adzab-Ku sangat pedih.” (al-Ayat).

Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat hak-hak mereka, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros.” (QS 17 : 26). “Dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu. Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS 64 : 16)

“Siapa yang mau memberi pinjaman kepada Allah dengan pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan melipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Allah menyempitkan dan melapangkan (rizki),  dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.”
(QS 2 : 245). “Barangsiapa bertakwa kepada Allah, maka Allah akan menjadikan baginya jalan keluar (dari kesulitan hidupnya), dan akan memberinya rizki dari arah yang tak pernah disangka-sangka.” (al-Ayat).

“Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridaan Tuhannya, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi-sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik).” (QS 13 : 22)

Sesungguhnya Allah Yang Maha Luas Karunia-nya lagi Maha Tinggi, akan menguji setiap hamba-Nya dengan rizki yang telah Ia berikan kepadanya. Barangsiapa yang ridha dengan pembagian Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka Allah akan memberkahi dan melapangkan rizki untuknya, dan barangsiapa yang tidak ridha (tidak puas), niscaya rizkinya tidak akan diberkahi” [HR Ahmad dan dishahihkan oleh Al-Albani]

Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi.” (QS 63 : 9).

 

Nah, marilah kita mencari keberkahan rizki dari Allah SWT, bukan banyaknya rizki yang dicari dengan segala cara, melainkan cara yang halal. Dan, hendaklah keberkahan rizki yang kita miliki menimbulkan manfaat dan kemaslahatan, tidak membuat kita lupa untuk mengingat dan menghamba dengan tetap beribadah kepada Allah, serta selalu bersyukur dan ringan hati dalam melaksanakan hal-hal yang diwajibkan atau diperintahkan atas kita, termasuk dalam hal berzakat, berinfak, dan bersedekah, kerena zakat, infak, dan sedekah di mata Allah adalah bagaikan pinjaman yang akan dikembalikan lagi dengan pengembalian yang berlipat ganda.   shoelhi

TIDAK ADA KOMENTAR

Tulis Komentar

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.