Beranda Sufi Style

Betapa Pentingnya Dzikrullah

BERBAGI
ukhtifr
ukktifr
ukhtifr
ukktifr

Mengingat Allah atau dzikrullah merupakan pekerjaan yang mudah, namun tak banyak orang mengerjakannya. Daripada berdzikir, orang lebih suka menonton TV, menikmati hiburan, atau bermain aneka permainan yang mengasyikkan. Padahal, dzikrullah itu juga tak ubahnya sebuah aktivitas yang menyenangkan. Meski demikian, tak sedikit orang memandang kegiatan mengingat Allah sebagai sesuatu yang tak menarik.

 

Dzikir sebagai Ungkapan Cinta

Bagi orang yang dapat menikmati manis atau lezatnya iman, maka mengingat Allah subhaanahu wa ta’aala terus-menerus merupakan kegiatan yang menyenangkan. Ia tidak memandangnya sebagai sebuah beban atau kewajiban yang berat. Malah ia justru memandangnya sebagai suatu kebutuhan karena cintanya kepada Allah yang amat-sangat dan terasa begitu menentramkan.

Bila orang mencintai sesuatu atau seseorang sedemikian dalamnya, maka secara otomatis ingatannya akan selalu tertuju kepada pihak yang dicintainya itu. Begitu juga ketika si Ahmad sangat mencintai si Faridah, maka ingatan Ahmad akan selalu tertuju kepada Faridah, nyaris di setiap saat dan dalam segala keadaan. Akan sulit baginya untuk mengalihkan perhatian dan ingatannya dari sang kekasih yang ia cintai itu.

“Adapun orang-orang yang beriman amat-sangat cintanya kepada Allah.” (QS Al-Baqarah 165). Cintanya itu tampak pada banyaknya aktivitas dzikrullah. Bagi siapapun yang banyak mengingat/menyebut Allah, Allah menyediakan ampunan dan pahala yang besar, sebagaimana firman-Nya, “Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS Al-Ahzab 41)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengatakan bahwa seluruh dunia dengan segenap isinya adalah terlaknat (sangat tidak berarti). Ketidakberartian itu bisa diubah menjadi sesuatu yang berarti dengan berdzikir kepada Allah. Rasulullah SAW bersabda, “Dunia itu terlaknat dan terlaknat pula apa yang ada di dalamnya, kecuali dzikir kepada Allah dan yang berhubungan dengannya, atau seorang yang ‘alim yang mengajarkan ilmunya.” (HR Ibnu Majah)

Dalam dunia modern yang penuh fitnah dan maksiat dewasa ini terasa betapa dunia telah menjadi tempat yang terlaknat, sebab begitu banyak hal diagungkan sedemikian rupa sampai ke derajat diperlakukan laksana ilah-ilah tandingan selain Allah. Banyak manusia yang kesibukannya bukanlah mengingat Rabbnya (Allah) melainkan hanya memikirkan mencari duit. Mereka sibuk mengingat perkembangan bisnisnya dan penambahan harta kekayaan yang diyakininya dapat membuatnya bahagia dan melestarikan kebahagiaan hidupnya di dunia.

Di kaangan karyawan atau pegawai, ada yang terobsesi mengingat segala strategi dan taktik untuk mempertahankan kelestarian jabatan dan kekuasaannya. Ada lagi pegawai yang hanya sibuk memikirkan upaya untuk menjilat pemimpinnya, bossnya, atau atasannya agar mendapatkan kenaikan pangkat atau golongan jabatan. Ada juga karyawan yang pikirannya hanya tertuju untuk menyenangkan atau memberi service dengan harapan akan mendapatkan imbalan uang atau perlakuan khusus dari bossnya.

Di kalangan para remaja dan muda belia, mereka sibuk memperbincangkan ahli maksiat seperti artis, selebritis atau bintang filem. Para bintang filem dan begitu juga bintang olahraga, khususnya dalam dunia olahraga sepakbola atau balap mobil formula pun dijadikan idola. Harta, jabatan, uang, bintang filem itulah ilah-ilah dalam kehidupan dunia modern. Kebanyakan orang tak ada yang menjadikan Muhammad Rasulullah sebagai idola, apalagi menjadikan Allah sebagai kekasihnya.

Pada sisi lain, kita juga menyaksikan betapa banyak umat Islam melakukan tindak tercela semisal melakukan penipuan, korupsi, konspirasi, penjarahan, berkhianat, tindakan mafia, bugil di tengah keramaian dan perbuatan terlarang lainnya. Ini semua terjadi karena mereka berislam tetapi tidak berihsan. Disadari atau tidak, mereka menganggap bahwa Allah tidak melihat segala perbuatan.

 

Kaum Zionis Yahudi memang telah dianugerahkan kepandaian.
Mereka tahu bahwa muslim yang terbaik (ihsan) adalah muslim yang berakhlakul karimah.
Oleh karenanya mereka berupaya merusak kaum muslim dengan merusak akhlak.

Mereka merusak akhlak kaum muslim melalui,
Paham Hedonisme yang menuhankan kesenangan
Paham Liberalism yang menuhankan kebebasan
Pornografi
Narkoba dan Miras
Gaya hidup mewah atau gaya hidup bebas dan lain-lain

Termasuk mereka merusak melalui pengetahuan tentang akhlak atau tentang Tasawuf dalam Islam dengan cara mencitrakan hal yang buruk terhadap Tasawuf.

Pencitraan yang buruk terhadap Tasawuf termakan pula oleh para pengikut ulama Muhammad bin Abdul Wahhab. Mereka menyusun kurikulum pendidikan bekerjasama dengan Amerika yang dibaliknya adalah Zionis Yahudi.

Abuya Prof. DR. Assayyid Muhammad bin Alwi Almaliki Alhasani menyampaikan dalam makalahnya bahwa dalam kurikulum tauhid kelas tiga Tsanawiyah (SLTP) cetakan tahun 1424 Hijriyyah di Arab Saudi berisi klaim dan pernyataan bahwa kelompok Sufiyyah (aliran–aliran tasawuf) adalah syirik dan keluar dari agama.

Sekarang banyak muslim tidak paham bagaimana muslim yang berakhlak baik atau muslim yang sholeh. Bahkan dapat kita temukan mereka yang meperolok-olok muslim yang sholeh.

Sekali lagi kami sampaikan bahwa muslim yang berakhlak baik (muslim yang sholeh) adalah muslim yang minimal selalu meyakini bahwa Allah Azza wa Jalla selalu melihat seluruh sikap dan perbuatan manusia.

Sungguh di zaman yang penuh fitnah dan maksiat seperti sekarang ini,  kegiatan dzikrullah menjadi suatu perjuangan tersendiri. Dewasa ini orang yang sibuk memfokuskan perhatian dan ingatannya kepada Dzat Yang Maha Mulia tentu menjadi manusia yang melawan arus di tengah-tengah kebanyakan manusia lainnya yang telah tenggelam ke dalam arus hebat dosa maksiat dan syirik.

Itulah dunia modern masa kini yang memabukkan, yang telah membuat manusia tertipu oleh kesenangan sesaat. Sungguh manusia telah tertipu dengan lebih menyukai dunia yang tak menjanjikan apa-apa selain kelelahan dan ketidakpuasan. Kesenangan duniawi apapun bentuknya yang diupayakan dengan segala jerih payah dan segala cara hanyalah sesuatu yang tak berarti jika dibandingkan dengan ampunan dan pahala yang besar sebagai imbalan dari kegiatan berdzikir mengingat Allah. Atas alasan itulah, Rasulullah SAW pada suatu majelis pernah mengingatkan para sahabatnya, “Tahukah kalian siapakah orang yang cerdas itu?” Para sahabat menjawab, “Hanya Rasulullah yang mengetahuinya.” Lantas Rasulullah menjelaskan, bahwa orang yang cerdas adalah orang beriman yang lebih memilih keberuntungan ukhrowi yang jauh lebih baik dan kekal daripada memilih kesenangan duniawi yang sesaat dan tak banyak artinya.” (Hadits Muttafaq Alaih).

 

Dua Golongan Iman

Menurut Ibnu Athoillah dalam bukunya yang berjudul Lathaif al-Minan, orang beriman terbagi ke dalam dua golongan. Orang beriman kepada Allah berdasarkan kepercayaan dan ketaatan, dan orang beriman kepada Allah berdasarkan penyaksian. Dengan demikian, iman pun terbagi dua, iman formalitas dan iman hakiki. Iman jenis pertama mendapatkan wilayah lahiriah, sedangkan iman jenis kedua mendapatkan wilayah yang murni. Iman jenis kedua ini disebut yakin, cahayanya terpendar, tiangnya kokoh terpancang dalam hati dan jiwa pemiliknya bahagia menyaksikan-Nya. Pengaruhnya tampak jelas, ia mampu hawa nafsu.

Iman seorang mukmin yang dihadapkan berbagai tantangan hawa nafsu dan ia melawannya dengan imannya itu. Perlawanan itu dilakukan dengan membersihkan kalbunya dari berbagai tantangan sehingga ia tidak mempedulikan semua tantangan itu karena telah ‘menyaksikan’ Allah.

Karena itulah para salik menuju Allah pun terbagi dua kelompok, yaitu kelompok yang tersusupi lintasan dosa sehingga ia berjuang melawan nafsunya sampai bisa melenyapkannya dan kelompok yang sama sekali tidak tersentuh lintasan dosa. Tentu saja, golongan kedua lebih mulia, lebih dekat pada ahwal para makrifat, sedangkan golongan pertama adalah ahli mujahadah. Hati menjadi sempurna apabila seluruh ruangnya telah diisi cahaya.Jika keadaan itu telah tercapai, tak ada lagi tempat untuk lintasan dosa.

 

Manisnya Dzikrullah

Al-Bukhari meriwayatkan hadits marfu yang berbunyi, “Sesungguhnya telah merasakan manisnya iman orang yang ridha Allah sebagai Tuhannya, Islam sebagai agamanya, dan Muhammad sebagai Rasulnya.” Juga diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Tiga hal yang jika salah seorang dari kalian berada di dalamnya, ia pasti merasakan manisnya iman:

Allah dan RasulNya lebih ia cintai daripada selain  keduanya

Mencintai seorang hanya karena Allah

Dipanggang di api yang berkobar lebih ia sukai ketimbang menyekutukan Allah

Dalam hadits yang lain Nabi bersabda, “Satu hal yang apabila ada pada diri seseorang, ia akan mendapatkan manisnya iman, yaitu dijadikannya Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai daripada selain keduanya.” (HR Bukhari).

Dalam hadist lain Rasulullah saw bersabda, “Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih Allah cintai daripada mukmin yang lemah, meski masing-masing keduanya memiliki kebaikan. Maka berupayalah untuk meraih sesuatu yang bermanfaat dan minta tolonglah kepada Allah dan jangan merasa lemah.” Allah SWT berfirman, “Mereka yang beriman dengan sebenar-benarnya akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezki (ni’mat) yang mulia” (Al Anfaal: 4)

Bagi orang yang beriman, mengingat dan mengagungkan Dzat Yang Maha Kuasa sungguh terasa betapa lezatnya. Allah berfirman, “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi terdapat tanda-tanda bagi orang yang cerdas akalnya; yaitu mereka yang selalu berdzikir kepada Allah baik dalam keadan berdiri, duduk, dan berbaring, dan merenungkan penciptaan langit dan bumi.” (QS Ali Imron 190-191). Dengan dzikrullah, Allah selalu mendekat, memperhatikan, menjaga dan menyayangi orang yang berdzikir itu serta mencukupkan segala kebutuhan hidupnya di dunia sehingga mereka tak merasa gentar dan takut, dan kelak di akhirat disediakan Surga Na’im baginya, serta mendapat tambahan pahala berupa kesempatan untuk berjumpa dengan Allah.

Gemerlap kehidupan dunia modern memang begitu menyilaukan, khususnya bagi mereka yang sangat lemah imannya. Mereka merasa galau manakala mereka tak sempat atau tak mampu menggapai kesenangan yang ditampakkannya. Untuk menggapai kesenangan itu tak jarang mereka menggadaikan keimanan dari kalbunya. Padahal, di tengah galaunya kehidupan dunia modern itu terbuka peluang untuk mereguk lezatnya keimanan. Lezatnya iman itu tak dapat dinikmati kecuali oleh orang yang kuat imannya, yaitu orang yang mampu mengalahkan segala godaan hawa nafsu. (zon-shoelhi)

Tulis Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.