Beranda Nasional

Risalah NU Gelar Diskusi: Strategi Dakwah di Perkotaan dan Perkantoran

BERBAGI
Foto bersama dengan nara sumber diskusi publik Risalah NU [afm]

Jakarta-berita9online, Majalah Risalah NU kembali menyelenggarakan diskusi publik bulanan dengan mengusung tema “Urgensi Dakwah di Masyarakat Perkotaan dan Perkantoran”. Diskusi berlangsung di lantai 8 Gedung PBNU, Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat, Kamis (12/10) kemarin. Diketahui, kegiatan ini merupakan salah satu langkah Risalah NU untuk memperbaiki kualitas konten, sehingga diharapkan ke depannya, media cetak ormas Nahdlatul Ulama ini dapat menyajikan tulisan dan berita yang semakin menarik dan bermanfaat bagi masyarakat.

Diskusi ke-2 ini dihadiri oleh para pembicara yang kompeten pada bidangnya, diantaranya adalah KH. Maman Imanulhaq (Ketua Lembaga Dakwah PBNU), Ali Shobirin (Sekretaris Lembaga Ta’mir Masjid PBNU), KH. Asrorun Niam Sholeh (Katib Syuriah PBNU), Syamsul Huda (Ketua NU Care LAZISNU), H. Asrori S Karni (Redaktur Senior Gatra) dan didampingi Hari Usmayadi (Ketua Lajnah Ta’lif wan Nasyr PBNU), serta para peserta dari berbagai unsur lembaga, banom PBNU dan warga nahdliyin.

KH. Maman Imanulhaq mengatakan, gairah keislaman yang muncul pada tahun 80-an memiliki dampak positif dan negatif. Misalnya saja, dalam tren fashion dunia kini ide-ide besar ke depan akan mengusung ide-ide Burqa, jilbab panjang dan sebagainya, sehingga masyarakat NU tidak boleh alergi. “Orang NU tidak boleh alergi lagi dengan tren simbolik ini. Dalam beragama, simbolnya iya, dan substansionalnya juga harus diperjuangkan”, ungkapnya.

Selain itu salah satu strategi dakwah yang dapat dilakukan adalah membuat pelatihan dai yang serius sehingga menciptakan dai yang kompeten. “Saatnya kita membuat pelatihan yang serius. Kita perlu dai-dai yang punya cara ceramah yang mutakallimin, balligh, yang singkat, padat, substansional, referensional dan mampu menyentuh apa yang dibutuhkan oleh masyarakat saat ini, termasuk dalam gaya berpakaian”, tambahnya.

Hal senada juga disampaikan oleh KH. Asrorun Niam Sholeh, tentang profiling dai yang diterima oleh masyarakat. Diperlukan pendekatan secara sinergis untuk mengisi ruang-ruang dakwah, seperti adanya pendampingan yang istiqomah. “Metode pendampingan harus diutamakan, dalam berdakwah bukan dengan cara menentang, namun mengedepankan pendampingan terlebih dahulu. Hal ini pula sebagaimana dilaksanakan oleh Wali Songo dalam mendakwahkan Islam. Jika kita kuat, maka secara alamiah masyarakat akan mengikuti”, tuturnya.

Sementara itu, menurut Ali Shobirin, kepedulian terhadap dakwah di masjid-masjid harus diutamakan. “alamatul islam maujudu fil makan al masjid, bahwa tanda Islam ada di suatu tempat adalah masjid. Masjid harus menjadi mainstreaming bagi para pengurus NU untuk berdakwah”, ujarnya.

Di sisi lain, Asrori S Karni mengatakan, media makin memainkan peran dalam proses seleksi siapa dai-dai yang memainkan peran penting pada eranya. Sehingga kita perlu pendekatan dengan memenuhi kebutuhan customer. “Kini masyarakat bisa mengakses konten untuk memenuhi kebutuhan keagamaannya melalui medsos. Dalam situasi karakter masyarakat seperti ini, gerakan media-media NU seperti LTN NU dan lain-lain harus memperbanyak konten-konten yang bisa memenuhi kebutuhan mereka”, ungkapnya. [Ala]

Tulis Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.