Rekayasa Kasus Diungkap MA, KY: Polri & Jaksa Tak Perlu Kebakaran Jenggot

BERBAGI
Imam Anshori Sholeh, Anggota Komisi Yudisial (foto: metrotvnews)
Imam Anshori Sholeh, Anggota Komisi Yudisial (foto: metrotvnews)
Imam Anshori Sholeh, Anggota Komisi Yudisial (foto: metrotvnews)

 

 

Jakarta-berita9online, Mahkamah Agung (MA) membongkar rekayasa kasus narkoba yang dilakukan polisi terhadap Ket San, Rudy Susanto, Andika, Benny dan Iwan. Namun korps Bhayangkara itu beserta kejaksaan membantah putusan MA tersebut.

 

Sikap kedua institusi penegak hukum itu disesalkan Komisi Yudisial (KY). “Polri dan Kejaksaan Agung (Kejagung) tidak perlu kebakaran jenggot dengan putusan MA yang membongkar rekayasa dalam penyidikan perkara,” kata komisioner KY, Imam Anshori Saleh.

 

Menurut Imam, putusan MA ini juga menjadi cambuk bagi internal hakim karena menganulir putusan pengadilan tingkat pertama dan tingkat banding. Atas hal itu, semua diminta introspeksi diri.

 

“Putusan MA tentu tidak mengada-ada karena dirasakan semua penegak hukum. Polri, kejaksaan mapun pengadilan sama-sama intropeksi untuk menjalankan tugas-tugas penegakkan hukum sebaik-baiknya,” ujar Imam.

 

Ket San ditangkap dua polisi di Sambas, Kalimantan Barat. Rudy dijebak di kos-kosannya di Rungkut, Surabaya. Andika disetop di tengah jalan di Prabumulih. Sedangkan Benny dan Iwan di tempat parkir Hotel Pesona, Banjarmasin. Semuanya dihukum penjara di tingkat pertama dan banding lalu dikoreksi MA.

“Tidak perlu saling bantah dan saling menyalahkan,” papar Imam.

 

Selaku lembaga yang ditugasi UUD 1945 untuk mengawasi dan menjaga martabat hakim, KY sangat menyayangkan pernyataan-pernyataan pejabat di institusi polri dan kejaksaan. Sebagai pejabat negara dan pengayom masyarakat, polisi dan jaksa seharusnya memberi contoh untuk taat dan menghormati hukum

 

“Masyarakat tidak perlu disuguhi pernyataan-pernyataan yang membela institusi masing-masing. Mereka sangat tahu dan paham apa yang sesungguhnya terjadi,” tegas mantan politikus PKB itu.

 

Seperti diketahui, pihak kejaksaan hingga saat ini masih berkeyakinan jika kasus itu tak ada yang direkayasa.

“Siapa yang bilang direkayasa? Di PN (Pengadilan Negeri) dan PT (Pengadilan Tinggi) sudah diputuskan bersalah berarti kan alat bukti sudah cukup,” ujar Asisten Pidana Umum (Aspidum) Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jawa Timur Andi Muhammad Taufik.

 

Adapun Wakapolri Komjen Oegroseno masih menawar putusan tersebut. Polisi yang menyandang bintang tiga itu menilai amar putusan MA tersebut masih perlu ditelusuri kebenarannya.

 

“Kalau terbukti (merekayasa) jangan minta maaf, itu sudah pelanggaran berat, harus di PTDH (Pemberhentian Dengan Tidak Hormat). Kalaupun itu terjadi, itu kelakuan oknum,” kata Komjen Oegroseno.

 

Dalam putusan MA terhadap Benny dan Iwan, MA menilai penegakkan hukum dalam memberantas narkoba sudah sangat membahayakan. Sebab polisi menghalalkan segala cara, termasuk merekayasa kasus.

 

“Bahwa terdapat tren yang dilakukan pihak kepolisian dalam menegakkan hukum narkotika dengan cara semua saksi dari pihak polisi sekaligus menjadi saksi kunci. Apalagi tren penegakan hukum yang melanggar hukun ini dibiarkan oleh judex factie (pengadilan negeri/pengadilan tinggi), tentu saja akan membahayakan kita semua. Sebab tidak tertutup kemungkinan akan terjadi secara terus menerus,” putus MA.(detik)

TIDAK ADA KOMENTAR

Tulis Komentar

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.