Beranda Nasional

PP LDNU Selenggarakan Pelatihan Dai

BERBAGI
gbldnu
Dari Kanan: Kiai Said Aqil Sirokd, KH. Zaki Mubarok
gbldnu
Dari Kanan: DR. Kiai Said Aqil Sirodj, DR. KH. Zaki Mubarok

Jakarta, Pengurus Pusat Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (PP LDNU) bertekad untuk mendidik dai-dai muda agar dapat mewujudkan Islam Rahmatan Lil ‘alamin. Oleh karena itu pelatihan kader diselenggarakan secara rutin, dan Senin 13/05/2013 pelatihann kader telah memasuki angkatan ke-3 yang dibuka oleh DR. Kiai Said Aqil Sirodj, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

 

Dalam sambutan pembekalannya Kiai Said mengatakan, di dalam al-Qur’an yang bicara aqidah dan syariah hanya 5%, selebihnya adalah al-islam dinul ‘ilmi was-saqofah, dinul adabi wal hadloroh dinud tamaddun wal insaniyah. Islam adalah agama pengetahuan, agama intelektual, agama peradaban, agama budaya. Puncaknya agama kemanusiaan.

 

Oleh karena itu lanjut kiai Said, dakwah Islamiyah tidak dengan cara kekerasan. Dulu ratusan tahun Islam datang ke Indonesia tidak pernah berhasil. Contohnya, Syekh Ahmad Subakir dengan pasukannya menyerang Ki Darmawangsa di Doho Kediri. Dengan Bantuan Raja Airlangga, Ahmad Subakir dan pasukannya ditumpas habis.

 

Ada juga kiai Abdul Qodir dari Cina, Ibrahim Samakondi, Jumadil Qubro, Syekh Marzuki. Mereka memobilisir para petani yang hidup sengasara, dilatih perang untuk menyerbu Majapahit. Walhasil, kalah dan dibunuh semua. Kiai-kiai tadi kuburannya masih ada di Trowulan Majapahit.

 

Lain dengan Walisongo, jelas kiai Said, dengan pendekatan budaya, kesenian, kemanusiaan, dan hikmah, 50 tahun kemudian penduduk tanah jawa memeluk Islam. Bahkan Raja Brawijaya juga memeluk Islam. Majapahit runtuh dengan sendirinya tanpa kekerasan, tanpa peperangan.

 

Di kesempatan yang sama, DR. KH. Zaki Mubarok, ketua PP LDNU memberikan pesan dengan sebuah cerita. Suatu ketika Khalifah al-Makmun datang ke masjid untuk shalat Jum’at. Melihat khalifah datang, khatib masjid langsung mengkritik dan menghujad khalifah.

 

Sepuluh hari kemudian, al-Makmud mengundang ulama-ulama ke istana termasuk khatib yang mehujatnya untuk makan bersama, memperkuat silaturrahmi. Selesai acara, khalifah bertanya kepada khatib,”Menurut Anda, apa perbedaan saya dengan Fir’aun?”. Khatib menjawab, bahwa Fir’aun adalah raja yang tidak mau mengakui Tuhan, bahkan Fir’aun menganggap dirinya sendiri Tuhan. Sedangkan khalifah adalah hamba Tuhan. Khalifah kembali bertanya,”Kalau Anda dengan nabi Musa bagaimana?” Khotib menjawab,”Saya ulama biasa sedangkan nabi Musa pilihan Allah, Beliau dakwah kepada Fir’aun dengan lemah lembut, kalimat yang simpatik, luhur agar Fir’aun menerima ajaran Nabi Musa”.

 

Khalifah berkata,”Anda lihat khatib, Musa yang lebih mulia dari Anda, mendatangi Fir’aun dengan kalimat-kalimat yang baik, dengan wajah yang simpatik. Bagaimana dengan khotbah Anda waktu itu?”. Seketika sang khotib menunduk dan tidak bisa berkata apa-apa.

 

Dari cerita tersebut Kiai Zaki Mubarok mengajak peserta pelatihan untuk menjadi da’i yang santun, ramah, memberikan pencerahan dan pengetahuan, bukan membuat orang gerah. Kiai Zaki juga mengajak calon-calon dai agar meniru Rasulullah dalam berdakwah kepada umat.

Tulis Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.