Ketua Umum NU: Pak Taufik Santri, Santun Dalam Berpolitik

BERBAGI
gb saidaqil
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), DR KH Said Aqil Sirodj (gb dakwatuna)
gb saidaqil
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), DR KH Said Aqil Sirodj (gb dakwatuna)

Jakarta-berita9online, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menyampaikan belasungkawa mendalam atas wafatnya Ketua MPR RI, Taufik Kiemas. Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Sirodj menyebut, almarhum sebagai santri yang menjunjung nilai-nilai kesantunan dalam berpolitik.

“Pak Taufik pernah umroh bareng dengan saya, haji juga bareng, dan saya tahu persis beliau fasih membaca Al Quran, salatnya juga rajin. Pantas jika beliau disebut santri yang taat beribadah,” kata Kiai Said di Jakarta, Sabtu (8/6).
Kesantrian seorang Taufik Kiemas, lanjut Kiai Said, ditunjukkan tidak hanya ketika menjalankan ibadah di tanah suci. “Kesehariannya beliau juga dermawan. Saya atas nama pribadi dan Nahdlatul Ulama (NU) merasa sangat kehilangan. Semoga amal beliau diterima dan semua dosa-dosanya diampuni oleh Allah SWT,” lanjutnya.
Kenangan terhadap sosok Taufik Kiemas juga disampaikan oleh Kiai Said atas kiprahnya sebagai aktifis di saat muda. Ketika akhirnya menikahi Megawati Soekarnoputri, jiwa aktifis tersebut dituangkan dalam kebersamaan dalam memperjuangkan PDIP dari kedzoliman pemerintahan Orde Baru.
Ketaatan beribadah Taufik Kiemas juga terefleksi dalam politik yang dijalankannya. TK, demikian almarhum biasa disapa, dikenal sebagai politisi yang santun.
“Sekarang ketika Bu Mega belum bisa sepenuhnya akur dengan Pak SBY, Pak Taufik berkenan menjadi Ketua MPR RI, menjembatani, jadi penengah antara kepentingan partainya dengan Pemerintah. Tidak semua politisi bisa seperti itu,” urai Kiai Said.
Aspek kesantrian lain dari sosok Taufik Kiemas dalam berpolitik juga tercermin dari usulannya mendirikan Baitul Muslimin, sayap PDIP untuk mewadahi kader partai yang beragama Islam.
“Ketika belum banyak partai politik memiliki sayap untuk kadernya yang Muslim, Pak Taufik sudah mengusulkan dibentuknya Baitul Muslimin di PDIP. Itu luar biasa,” tegas Kiai Said, Doktor Tasawuf lulusan Universitas Ummur Qura’, Mekkah.
Di bidang kenegaraan, Kiai Said mengenang Taufik Kiemas dari pemikirannya meneguhkan empat pilar sebagai penopang kehidupan berdemokrasi. “Dari pemikirannya tersebut, bersama saya dan Pak Djoko Suyanto, Pak Taufik dianugerahi gelar Tokoh Perubahan oleh Republika,” pungkasnya.(samsul hadi)

TIDAK ADA KOMENTAR

Tulis Komentar

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.