Filosofi Intelijen Dalam Al-Qur’an

BERBAGI
gb. intelijen
(gb. 2mindshare)
gb. intelijen
(gb. 2mindshare)

berita9online, Di dalam surat Ali Imran ayat 200 terdapat filosofi intelijen yang terjemahannya adalah “Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertaqwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung”.

 

Menurut pengamat intelijen, MD La Ode, kalimat “kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiaga” adalah perintah Allah kepada orang-orang yang beriman, agar senantiasa waspada di batas negeri atas invasi dari bangsa lainnya.

 

Sedangkan kata beruntung menurutnya adalah stabilitas kedaulatan terpelihara dengan baik. Selanjutnya, sebagai aplikasi dari filosofis intelijen religius itu, berikut ini dicuplikkan beberapa filosofis intelijen yang sduah berlaku universal:

  1. Mengetahui/memperkirakan hal yang akan terjadi dalam kurun waktu 5-20 tahun ke depan. Negara-negara yang maju dewasa ini adalah mereka yang mampu membuat perkiraan keadaan bangsa-bangsa lainnya dalam kurun waktu 5-20 tahun kedepan. Dengan begitu mereka bisa membuat kebijakan dalam negeri dan luar negerinya mendekati ketepatan. Penggunanya adalah single client, yaitu presiden.
  2. Profesi intel adalah profesi klandestein. Seorang intel dalam melaksanakan tugasnya tidak pernah mengakui dirinya sebagai intel, melainkan tertutup di bawah permukaan. Identitasnya benar-benar dirahasiakan tetapi dia bisa menyusup ke dalam semua lapisan masyarakat baik dalam negeri maupun di luar negeri. Semua itu dilakukannya demi bukti loyalitas kepada negerinya.
  3. The first hand information and the first hand fact. Seorang intel dalam melaksanakan fungsi profesionalismenya, dalam mengumpulkan data/fakta dengan sifat kemisteriusannya, agar validitasnya tinggi, maka seorang intel harus berada pada jarak terdekat dengan sumber informasinya.
  4. You have to be there. Seorang intel harus berada di sana. Ini bertujuan agar analisa seorang intel tidak terlalu makro (harus mengerucut). Sebab kalau terlalu makro akan mengalami bias yang luas. Hasil analisa seperti itu akan memberika dampak kebijakan yang kurang tepat, yang akan mengakibatkan konflik dalam masyarkat dalam negeri atau menurunnya hubungan diplomatik dalam tataran global.
  5. The fog of the future. Seorang intel harus memiliki kemampuan intelijensia tinggi untuk dapat mengungkap apa yang ada di balik lapis kabut tebal. Dengan perkataan lain bahwa seorang intel harus mampu mengetahui ancaman dan peluang apa bagi negerinya dalam kurun waktu 5-20 tahun ke depan.
  6. Era global adalah era pertarungan intelijen. Pada era globalisasi dengan muatan demokrasi, HAM, telekomunikasi, kekuatan media massa, lingkungan, dan transportasi, serta ideologis, menggambarkan kepada kita bahwa siapa yang memenangi pertarungan intelijen, maka dia akan menguasai dunia (disarikan dari majalah suara pemred-mha)

TIDAK ADA KOMENTAR

Tulis Komentar

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.