Beranda Nasional

DR KH Hasyim Muzadi: Kita Butuh Netralitas Aktif TNI

BERBAGI
DR KH Hasyim Muzadi [foto: harianorbit]
DR KH Hasyim Muzadi [foto: harianorbit]
DR KH Hasyim Muzadi [foto: harianorbit]

 

Jakarta-berita9online, Mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Hasyim Muzadi menyatakan menjelang dan saat Pemilu 2014 netralitas TNI yang dibutuhkan adalah netralitas aktif, bukan yang pasif atau sekadar wacana. Netralitas aktif TNI dibutuhkan demi persatuan dan kesatuan negara seutuhnya.

 

“Hari ini bangsa kita berada pada multisektoral yang masing-masing memiliki ego sektoral. Sektor institusi negara pun sudah terjangkit dengan ego ini. Oleh sebab itu, netralitas TNI jangan berada di luar itu semua. Namun, justru harus berada di dalamnya,” kata Hasyim yang hadir dalam silaturahmi yang digelar oleh Kepala Staf TNI Angkatan Darat (Kasad) Jenderal TNI Budiman di Markas Besar TNI Angkatan Darat (Mabesad) Jakarta, Jumat (14/3).

 

Menurutnya, dengan netralitas aktif, TNI secara langsung membuktikan peran sertanya dalam membangun rasa persatuan dan kesatuan bangsa. Diharapkan, masalah ego sektoral lambat laun akan hilang jika netralitas aktif TNI terus dikedepankan.

 

Pakar etika politik dan tokoh Katolik, Franz Magnis Suseno, yang juga hadir dalam pertemuan tersebut menyebutkan tahun 2014 merupakan tahun yang paling menentukan perjalanan hidup bangsa Indonesia.

 

“Bangsa Indonesia bukanlah bangsa yang sederhana. Tetapi bangsa yang kompleks dengan berbagai permasalahannya. Oleh sebab itu, netralitas TNI sangat diperlukan,” kata Magnis.

 

Dijelaskan, sejak tahun 1998, 1999 dan seterusnya, Indonesia nyaris menjadi seperti Mesir. Namun, berbagai gejolak yang muncul dapat diredam berkat rasa kebangsaan. Dengan segala konflik yang terjadi, masyarakat Indonesia harus tetap menjunjung persatuan dan kesatuan nasional.

 

“Saya mau mengatakan, TNI memang harus mendukung persatuan bangsa. Ada dua modal bangsa Indonesia yang kalau dipelihara akan mendukung Indonesia dalam jalan persatuan. Yang pertama adalah modal kebangsaan dan modal kedua, Pancasila. Modal kebangsaan lahir dan menjadi kuat sebelum proklamasi kemerdekaan. Rasa kebangsaan itu menjaga agar konflik tidak sampai meledak. Pancasila merupakan kesepakatan bangsa Indonesia yang dijalani berdasarkan nilai-nilai yang dimiliki bersama,” ucapnya.

[beritasatu]

Tulis Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.