Direktur Tempo: Saatnya Media Cetak Bikin Berita Online

BERBAGI
Toriq Hadad (foto: tempo)
Toriq Hadad (foto: tempo)
Toriq Hadad (foto: tempo)

 

Surabaya-berita9online, Perkembangan teknologi dan media online memunculkan beragam pertanyaan baru bagi perusaaan media cetak. Apakah media cetak sudah waktunya tutup? Jika memaksa eksis, itu bertahan sampai kapan? Apakah media cetak sudah ketinggalan zaman?

 

Beragam pertanyaan itu dilontarkan oleh Toriq Hadad, Direktur Tempo Grup, saat mengisi acara workshop managemen pers, di hotel Sahid, Surabaya, Jumat (1/11/2013). “Fakta yang ada, tahun 2013, pengguna BB di Indonesia sebanyak 80 juta orang. Ini sepertiga jumlah penduduk. Sampai tahun lalu, pengguna internet di Indonesia 55 juta orang. Ini tumbuh sekitar 58 persen,”tuturnya.

 

Menyikapi fakta-fakta tersebut, menurut Toriq, media cetak dituntut untuk berubah. Menyesuaikan diri. Beradaptasi dengan perubahan zaman. “Kuncinya adalah inovasi,” katanya.

 

Toriq lantas memaparkan beragam inovasi yang dilakukan oleh Tempo. “Selain menerbitkan majalah dan koran Tempo cetak dalam bentuk kertas, kita juga membuat Tempo online. Ada banyak tambahan pendapatan dari online,” katanya.

 

Salah satu pendapatan adalah penjualan berita. Tempo grup bekerja sama dengan Yahoo dan Plasa MSN. “Ini saling menguntungkan. Mereka bisa menayangkan berita tanpa perlu memiliki wartawan. Sedangkan Tempo, ini memberi pemasukan bagi perusahaan,” ujarnya.

 

Rubrik atau kanal di media online juga lebih beragam. “Tempo online membuka beberapa kanal yang bisa dijual. Misalnya wisata, kesehatan, maupun gaya hidup. Kanal-kanal ini berpotensi mendatangkan iklan,” jelas Toriq.

 

Selain menjual berita, Tempo online juga berjualan foto. “Banyak sekali yang mau membeli foto. Kalau di online, penjualan kan tidak dibatasi ruang. Sehingga, pembeli bisa datang dari belahan negara manapun,” katanya.

 

Intinya, menurut Toriq, serbuan media online dan layanan internet bukanlah ancaman bagi media cetak. Justru sebaliknya, perkembangan tersebut memunculkan bebagai peluang baru. Media cetak hanya butuh adaptasi dan inovasi.

 

Tetapi Toriq juga mengingatkan, sebesar apapun peluang, intinya tetap pada kualitas konten atau berita. “Konten yang bekualitas akan terus dicari oleh pembaca. Misal di Tempo. Edisi spesial ‘Jagal 1965’ itu sampai sekarang masih dicari. Maka, Tempo pun memproduksinya dalam bentuk online dan buku. Keduanya ternyata laku,” kata Toriq. [but/ted/beritajatim]

TIDAK ADA KOMENTAR

Tulis Komentar

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.