Beranda Nasional

As’ad Said Ali: Diponegoro Lahirkan Jaringan Ulama NU

BERBAGI
Wakil Ketua Umum PBNU, DR KH As'ad Said Ali (foto: Risalah NU)
Wakil Ketua Umum PBNU, DR KH As'ad Said Ali (foto: Risalah NU)
Wakil Ketua Umum PBNU, DR KH As’ad Said Ali (foto: Risalah NU)

 

 

Jakarta-berita9online, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH As’ad Said Ali mengatakan, semangat cinta tanah air dan ketaatan menjalankan ajaran agama menjadi bagian yang tidak terpisahkan. Ini yang diwarisi para ulama NU dari Pangeran Diponegoro dan pasukannya.

 

“Patriotisme dan religiusitas, keduanya adalah satu kesatuan. Ini yang menjadi inti ajaran Pangeran Diponegoro,” katanya dalam bedah buku tentang Pangeran Diponegoro bertajuk “Kuasa Ramalan” dan buku “Lasykar Ulama-Santri dan Resolusi Jihad” di aula PBNU, Jl. Kramat Raya 164, Jakarta, Selasa (21/1).

 

As’ad mengatakan, spirit utama perlawanan Pangeran Diponegoro dan dilanjutkan dengan berbagai perlawanan kaum santri terhadap penjajah sampai dikeluarkannya Resolusi Jihad 1945 adalah melawan ketidakadilan.

 

“Menegakkan keadilan itu nomor satu. Karena adanya ketidakadilan itulah kita melawan,” katanya menjelaskan peristiwa perang diponegoro 1825-1830 hingga Resolusi Jihad 1945.

 

Menurut As’ad, perjuangan Pangeran Diponegoro dan pasukannya diteruskan oleh para kiai dan santri hingga menghasilkan kemerdekaan Indonesia.

 

Lebih dari itu, pergerakan ulama pada awal abad ke-20 dalam mewujudkan kemerdekaan dipelopori oleh para murid dan keturunan Pengeran Diponegoro dan pasukannya.

 

“Diponegoro telah melahirkan jaringan ulama, dan jaringan ulama itulah yang kemudian menjadi NU,” katanya.

“Kiai Sholeh Darat misalnya, cucu dari Mbah Mutamakkin, adalah salah seorang panglima Diponegoro,” katanya.

 

Ia menambahkan, buku yang ditulis Milal Bizawie tentang Lasykar Ulama-Santri merinci persebaran pasukan Diponegoro hingga melahirkan generasi ulama, seperti Kiai Hasyim Asy’ari dan KH Wahab Chasbullah.

 

Bedah buku itu dihadiri langsung oleh penulis “Kuasa Ramalan: Pangeran Diponegoro dan Akhir Tatanan Lama di Jawa (1785-1855) Peter Carey” dan penulis “Lasykar Ulama-Santri dan Resolusi Jihad” Zainul Milal Bizawie, penulis “Atlas Wali Songo” Agus Sunyoto, dan dipandu oleh penulis “Pesantren Studies” Ahmad Baso.

 

Kajian dua buku sejarah itu merupakan bagian dari rangkaian peringatan hari lahir atau harlah ke-28 Pencak Silat Nahdlatul Ulama Pagar Nusa. “Kami ingin menggali banyak hal dari dua buku itu sebagai bekal Pagar Nusa ke depan,” kata Ketua Umum PP Pagar Nusa H Aizzuddin Abdurrahman saat memberikan sambutan di awal diskusi. (A. Khoirul Anam/nu online)

Tulis Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.