Beranda Nasional

12% Suara Demokrat Beralih ke PDIP dan Gerindra

BERBAGI
[foto: merdeka]
[foto: merdeka]
[foto: merdeka]

 

Jakarta-berita9online, PDI Perjuangan dan Partai Gerindra disebut merebut suara pemilih dari Partai Demokrat pada Pemilu Legislatif 2014. Hal ini berdasarkan hasil perhitungan cepat yang dilakukan Cyrus Network dan Centre for Strategic and International Studies (CSIS) yang dirilis dengan data masuk sebanyak 73 persen.

 

“Partai Demokrat paling banyak kehilangan suara sekitar 12 sampai 13 persen. Itu mengalir ke PDIP dan Partai Gerindra,” kata Direktur Eksekutif Cyrus Network, Hasan Nasbi usai jumpa pers pada Rabu, 9 April 2014 di Pakarti Centre CSIS, Tanah Abang, Jakarta. Dari quick count itu, PDIP meraih 18,8 persen dan Gerindra 12 persen.

 

Dua partai itu, ujarnya, juga mendapat limpahan suara Partai Golkar (sekitar 2 persen) dan dari Partai Keadilan Sejahtera, antara 1 sampai 2 persen. Menurut Hasan, peralihan suara ini disebabkan sejumlah kasus korupsi yang menimpa beberapa kader Golkar dan PKS.

 

Sedangkan Partai Gerindra memetik hikmah sebagai partai oposisi yang relatif tidak tersentuh berita miring. “Selain itu, figur Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Prabowo Subianto yang sudah lama dicitrakan sebagai presiden turut mendukung perlihan suara meski hasilnya tidak sebesar PDIP,” kata Direktur Departemen Politik dan Hubungan Internasional, CSIS, Philip J. Vermonte dalam kesempatan yang sama. Perolehan suara PDIP, ujarnya, banyak dipengaruhi efek Joko Widodo.

 

Penilaian senada disampaikan peneliti Indikator Politik Indonesia, Kuskrido Ambardi. Menurut dia, PDIP dan Gerindra mendapat limpahan suara langsung dari Demokrat, yang pamornya merosot. Pemilih PDIP dan Gerindra berada satu blok dengan pemilih Golkar dan Demokrat.

 

“Keempat partai sama-sama bertarung dalam kelompok partai nasionalis. Karena itu pergeseran suara antara pemilu 2009 dan 2014 hanya terjadi di dalam blok yang sama,” kata Dodi — sapaan Kuskrido — saat ditemui di studio Metro TV, Rabu, 9 April 2014.

 

Sedangkan kelompok suara kedua adalah kelompok partai islam. Kecenderungan perebutan suara pun hanya terjadi antar-partai islam. Dodi mencontohkan penurunan suara PKS, diimbangi dengan peningkatan suara PKB. Karena itu, menurut Dodi, kecendrungan sebaran suara pada pemilu kali ini hanya bergeser di dalam kelompok partai yang sama. “Tak ada pemilih yang menyeberang garis platform partai. Pergeseran lebih banyak di dalam klub.”

 

Mengenai peningkatan suara PDIP dan Gerindra yang lumayan besar, Dodi menyebutkan merupakan hasil dari kerja keras mesin partai. PDIP berhasil membangun citra sebagai partai bersih, dan membawa gagasan baru. Sebagai keuntungannya, PDIP mendapat limpahan suara kelas menengah yang sebelumnya memilih Demokrat.

 

Sedangkan Gerindra, mendapat sumbangan suara dari faktor figur Prabowo Subianto, dan jualan jargon nasionalis melalui sejumlah iklan. “Pemilih Indonesia rata-rata pemilih nasionalis sehingga lebih mudah menerima gagasan kebangsaan yang ditawarkan Gerindra.”

 

Berdasarkan hasil hitung cepat Indikator Politik Indonesia, PDIP meraih suara sekitar 20 persen dan Gerindra mendapat suara sekitar 13 persen. Sementara perhitungan cepat Cyrus Network dan CSIS, dengan jumlah TPS masuk 73 persen dan tingkat partisipasi 75,3 persen, sebagai berikut: PDIP (18,8%), Golkar (14,5), Gerindra (12), PKB (9,7), PAN (7,5), PPP (6,8), PKS (6,7), Nasdem (6,6) dan Hanura (6,8).

[tempo]

Tulis Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.