Beranda Kesehatan

Stunting, Tubuh Pendek yang Dialami 35,6% Anak Indonesia

BERBAGI
gb. stunting
(gb. conflict ishtm)
gb. stunting
(gb. conflict ishtm)

Jakarta-berita9online, Meski hampir 68 tahun Indonesia merdeka, gizi buruk berkepanjangan yang mengakibatkan tinggi badan di bawah standar (Stunting), masih banyak terjadi di masyarakat.
Disamping tinggi badan, akibat lainnya adalah timbulnya penyakit seperti stroke, diabetes, jantung dan lainnya menginjak usia 35 tahun.

 

Data yang dimiliki UNICEF menunjukkan 35,6% (sekitar 8 juta) anak mengalami gizi buruk tersebut, dengan Brebes sebagai daerah yang mengalami gizi buruk terbesar.

 

Untuk menangani Stunting, Pengurus Pusat Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama (PP LKNU) menyelenggarakan seminar nasional dengan tema “Menggalang Partisipasi Kiai dan Ulama dalam Pencegahan Stunting di Indonesia”. Seminar mengundang lembaga, badan otonom di kalangan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), PP Muhammdiyah, Departemen Kesehatan, dan Uncef, dan MUI di Gedung PBNU, Jakarta, 01 Agustus 2013.

 

Dalam sambutannya, Ketua PP LKNU, Dr. dr. H. Imam Rasjidi, Sp.OG, mengemukakan bahwa penyebab stunting adalah buruknya makanan yang dikonsumsi sejak kandungan sampai anak berusia dua tahun, sehingga hal ini sangat tergantung kepada perilaku orang tuanya, disamping faktor ekonomi.

 

Dr Imam juga menunjuk susu formula, makanan import, jun food ikut mendukung terjadinya stunting.

Di dalam al Qur’an banyak disebutkan perintah Allah untuk serius terhadap kesehatan anak, yaitu surat An-Nisa ayat 9:

 

وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللَّهَ وَلْيَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا

“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar”.

 

Selain itu juga surat Al-Baqarah ayat 233:
وَالْوَالِدَاتُ يُرْضِعْنَ أَوْلَادَهُنَّ حَوْلَيْنِ كَامِلَيْنِ ۖ لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يُتِمَّ الرَّضَاعَةَ ۚ وَعَلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ ۚ لَا تُكَلَّفُ نَفْسٌ إِلَّا وُسْعَهَا ۚ لَا تُضَارَّ وَالِدَةٌ بِوَلَدِهَا وَلَا مَوْلُودٌ لَهُ بِوَلَدِهِ ۚ وَعَلَى الْوَارِثِ مِثْلُ ذَٰلِكَ ۗ فَإِنْ أَرَادَا فِصَالًا عَنْ تَرَاضٍ مِنْهُمَا وَتَشَاوُرٍ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا ۗ وَإِنْ أَرَدْتُمْ أَنْ تَسْتَرْضِعُوا أَوْلَادَكُمْ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ إِذَا سَلَّمْتُمْ مَا آتَيْتُمْ بِالْمَعْرُوفِ ۗ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

“Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma´ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan”

 

Untuk mencegah Stunting, jelas dr Imam, perlu penyadaran masyarakat terhadap enam hal: 1.Kunjungan ke dokter pada saat kehamilan 2. Minum pil zat besi 3. Inisiasi Asi sejak dini, karena ASI yang baik dapat menurunkan kematian sebesar 21% 4. Asi ekslusif bagi bayi 0 – 6 bulan saja 5. Memberi makanan bergizi 6 bulan-2 tahun 6. Mulivitamin dan mineral 7.Perlilaku memakai sabun.

 

Usai seminar PP LKNU akan melakukan tindak lanjut dengan mengajak para ulama dan untuk melakukan penyadaran dan penanganan tentang stunting di kabupaten Brebes, Jawa Tengah sebagai pilot project.(ahm)

Tulis Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.