‘Kesaktian’ Fiber dalam Mencegah Diabetes

BERBAGI
Sayuran kaya serat (foto: organic.healthfoodxdrinks)
Sayuran kaya serat (foto: organic.healthfoodxdrinks)
Sayuran kaya serat (foto: organic.healthfoodxdrinks)

 

 

Paris-berita9online, Para ilmuwan beberapa dasawarsa ini meyakini diet kaya serat membantu kita melawan obesitas dan diabetes. Namun bagaimana mekanismenya, tak pernah dijelaskan secara rinci.

 

Sebuah tim ilmuwan gabungan Prancis-Swedia termasuk peneliti dari Délégation Paris Michel-Ange (lebih dikenal sebagai CNRS), Inserm, dan Université Claude Bernard Lyon 1 baru-baru ini berhasil menjelaskan mekanisme tersebut, yang melibatkan flora usus dan kemampuan usus untuk menghasilkan glukosa. Hasil penelitian mereka diterbitkan dalam jurnal Cell edisi 9 Januari 2014.

 

Penelitian mereka juga menjelaskan peran dari usus dan mikroorganisme yang terkait dalam menjaga glikemia. Dari penelitian ini, mereka akan merekomendasikan diet baru untuk mencegah diabetes dan obesitas.

 

Dalam penelitiannya, mereka menggunakan buah dan sayur yang berasa manis dan kaya akan serat difermentasi, seperti kol. Serat tersebut tidak dapat dicerna langsung oleh usus tetapi difermentasi oleh bakteri usus menjadi asam lemak rantai pendek seperti propionat dan butirat, yang sebenarnya bisa diasimilasi oleh tubuh kita.

 

Dampak perlindungan dari serat inilah yang diteliti. Hasilnya, hewan yang diberi diet kaya serat menjadi lebih sedikit lemak dan lebih kecil kemungkinannya untuk mengembangkan diabetes daripada hewan yang diberi diet bebas serat.

 

Tim yang dipimpin oleh Gilles Mithieux, peneliti CNRS, bertanya-tanya apakah mekanisme ini bisa dikaitkan dengan kapasitas usus untuk menghasilkan glukosa. Usus sebenarnya mampu mensintesis gula dan melepaskannya ke dalam aliran darah antara waktu makan dan di malam hari . Namun, glukosa memiliki sifat tertentu: terdeteksi oleh saraf-saraf di dinding vena portal — yang mengumpulkan darah yang berasal dari usus — yang pada gilirannya mengirimkan sinyal ke saraf otak. Sebagai tanggapan, otak memicu berbagai efek perlindungan terhadap diabetes dan obesitas: sensasi rasa lapar memudar, pengeluaran energi saat istirahat ditingkatkan, dan hati memproduksi lebih sedikit glukosa.

 

Dalam rangka untuk menjelaskan hubungan antara serat difermentasi dan produksi glukosa oleh usus, para peneliti menggunakan tikus sebagai kelinci percobaan. Setelah memberi makan diet yang diperkaya dengan serat difermentasi pada tikus, mereka kemudian mengamati induksi kuat dari ekspresi gen dan enzim yang bertanggung jawab untuk sintesis glukosa dalam usus. Hasilnya, tikus yang diberi diet lemak dan gula yang kaya, tetapi juga dilengkapi dengan serat, menjadi kurang berlemak daripada tikus kontrol yang juga dilindungi terhadap perkembangan diabetes dengan meningkatkan sensitivitas terhadap insulin.

 

Para peneliti mengulangi percobaan dengan tikus yang memiliki kemampuan usus untuk menghasilkan glukosa namun fungsinya dimatikan melalui rekayasa genetika. Tidak ada efek perlindungan: tikus menjadi gemuk dan mengembangkan diabetes seperti yang tikus yang diberi diet bebas serat.

 

Terlepas dari mekanisme yang sebelumnya tidak diketahui ini, penelitian ini menyoroti peran flora usus yang dengan fermentasi serat makanan mampu menghasilkan glukosa. Hal ini juga menunjukkan pentingnya usus dalam regulasi glukosa dalam tubuh.(tempo)

TIDAK ADA KOMENTAR

Tulis Komentar

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.