Malaysia Larang Penggunaan Kata “Allah” untuk Non Muslim

BERBAGI
'Herald' Koran milik komunitas katolik di Malaysia
'Herald' Koran milik komunitas katolik di Malaysia
‘Herald’ Koran milik komunitas katolik di Malaysia(foto: ucanews)

 

Jakarta-berita9online, Mahkamah Rayuan (Mahkamah Agung) Malaysia memutuskan bahwa Gereja Katholik dilarang menggunakan kalimah Allah dalam penerbitan media mingguannya Herald.

 

Keputusan itu dibuat tiga hakim yang diketuai Hakim Mahkamah Persekutuan, Datuk Seri Mohamed Apandi Ali dalam sidang yang menyita banyak perhatian pada hari Senin, 14 Oktober kemarin. Dua lagi hakim lainnya adalah Datuk Hakim Abdul Aziz Abdul Rahim dan Datuk Mohd Zawawi Salleh.

 

Ini bermakna bahwa keputusan Mahkamah Tinggi Kuala Lumpur pada 31 Desember 2009 yang membolehkan penggunaan kalimah Allah dalam penerbitan pihak Gereja Katholik menjadi batal.

 

Dalam sidang, Mohamed Apandi menyatakan panjang lebar bahwa mahkamah mendapati penggunaan perkataan Allah bukan sebahagian daripada aspek penting dalam kepercayaan dan amalan agama Kristiani. Karena itu, pengadilan mendapatkan tidak ada alasan mengapa gereja Katholik bersikeras menggunakan kalimah Allah itu dalam penerbitan berkalanya.

 

Menurut Apandi, penggunaan kalimat itu jika dibenarkan maka akan menyebabkan kekeliruan dan kerancuan dalam masyarakat.

 

Pada 16 Februari, 2010, Pimpinan gereja Roma Katholik, Tan Sri Murphy Pakiam mengajukan permohonan yang ditujukan kepada Kementerian Kehakiman, Kementerian Dalam Negeri dan kerajaan yang menuntut agar putusan melarang penggunaan kalimah ‘Allah’ dalam penerbitan The Herald adalah tidak sah.

 

Mingguan The Herald terbit dalam empat bahasa yang terang-terangan sejak terbit menggunakan kata ‘Allah’ untuk merujuk kepada “Tuhan” dalam edisi bahasa Malaysia, khusus untuk penduduk di Sabah dan Sarawak.

 

Pada 31 Desember 2009, Mahkamah Tinggi memutuskan bahwa keputusan Kementerian Dalam Negeri yang melarang Herald menggunakan kalimat itu adalah salah,  tidak sah dan batal. (BeritaHarian/MH)

TIDAK ADA KOMENTAR

Tulis Komentar

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.