Beranda Humor Gus Dur

Biro Travel Penentu Gelar Wali

BERBAGI
ilustrasi

ilustrasiSemasa hidupnya Walisongo, ada wali-wali lain yang tidak kita sebut. Sekarang ada tantangan kapitalisme dari EO (event organizer) dan travel-travel, ada wali ke-10. Jadi ada ziarah wali 10 di jawa timur diselenggrakan oleh travel-travel, maksude nang Gus Dur. Jadi Gus Dur itu wali ke-10.

 

Sekarang gini, kalau ustadz itu kan sudah jelas, dalam Al-Qur’an maupun hadits yang menentukan adalah, TV. Seseorang itu ustadz atau bukan yang menentukan pengarah acara TV. Itu menurut hadits Bukhari tonggone (tetangganya) pak Muslim. Barang siapa tidak dilegitimasi oleh televisi, dia bukan ustadz.

 

 

Kiai Said Aqil itu tidak jelas kiai, apa doktor, apa ustadz, karena dia tidak dilegitimasi oleh pemilik modal. Nah sekarang wali, kalau rumus internal kita la ya’riful wali illal wali. Bagaimana seseorang legal atau absah disebut wali atau bukan? Karena kita sendiri tidak mengurusi itu, Syaikhona Kholil wali atau bukan? Mbah kiai Hamid wali atau bukan? Kiai Sahlan, Krian wali atau bukan? Kan gitu pertanyaannya?

 

Sekarang Gus Dur wali. Mbah Wahid Hasyim wali atau bukan? Kan harus  kita jawab secara internal! Tapi sebelum kita menjawab, travel-travel dan EO-EO sudah menjawab. Sesudah wali songo ada wali sepuluh. Sekarang ada ziarah wali sepuluh diselenggarakan di jawa timur dan berkembang lagi ziarah wali songo jawa timur.

Wali songo yang kita bicarakan sekarang ini kan jawa timur ada lima, jawa tengah tiga, jawa barat satu. Ini yang jawa barat sama jawa tengah ditinggal karena tournya tergantung kemudahan bus. Jadi sekarang seseorang wali atau bukan ditentukan oleh rute bus. Ngono critane, dadi saiki seng dijopok hanya (yang diambil hanya) lima : Maulana Malik Ibrahim, Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Bonang, Sunan Drajat. Adapun Sunan Kalijogo, Sunan Muria, Sunan Kudus di jawa tengah tidak termasuk wilayah eksplorasi travel. Sehingga harus diciptakan wali songo jawa timur, ono mek limo, didelekno papat meneh (ada Cuma lima, dicarikan empat lagi). Embuh sopo diwalek-walekne kono disangak-sangakno (tidak tahu siapa diwali-walikan, disembilan-sembilankan).

 

Akhirnya muncullah wali  kiai Bungkul, soale gampang nang kiai Bungkul iku ndek suroboyo lewat, gampang mampir. Dadi poko-e wali itu sekarang yang menentukan bukan majelis ulama, bukan kumpulan para sufi, buka umat, bukan siapa-siapa tetapi travel. Jadi Allahumma sholli ‘ala travel, wa’ala alihi wa ashabihi ajma’in… (Emha)

Tulis Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.