Beranda Ekonomi

Cikembar-Sukabumi, Desa Peradaban Zakat

BERBAGI
gb bazcikembar
Kandang Domba desa Cikembar (gb. bazcikembar)
gb bazcikembar
Kandang Domba desa Cikembar (gb. bazcikembar)

berita9online, Sukabumi adalah kabupaten terluas di Provinsi Jawa Barat, dan bahkan terluas se-Jawa-dan-Bali. Banyak sumberdaya yang dikandung di dalamnya, di antaranya adalah sumber air mineral. Dengan ratusan truk raksasa tiap hari air ini diangkut ke berbagai daerah sebagai air dalam kemasan (ADK). Letaknya yang dekat dengan Jakarta membuat banyak perusahaan asing – terutama garmen – membangun pabriknya di kawasan ini.

 

Mayoritas penduduk Sukabumi (96%) beragama Islam. Kabupaten ini memiliki tak kurang dari 5.000 lebih masjid, 600 pesantren, lebih dari 2.000 Madrasah Diniyah menjadikan Kabupaten ini kental dengan semangat keagamaan. Tak pelak, pada 2002 masyarakat muslim Sukabumi mencanangkan Kabupaten ini sebagai Kabupaten Syariah.

 

Drs HM Sukmawijaya MM selaku Bupati Sukabumi (Majalah TABBAH, No. 1, Agustus 2009) menyatakan bahwa ternyata di Kabupaten ini masih terdapat pendudukn miskin dan buta huruf. Sukmawijaya mengharapkan bawa pendayagunaan zakat infak sedekah (ZIS) dapat mengikis kemiskinan dan keterbelakngan di daerah ini. Itulah sebabnya ia begitu giat mendorong Badan Amil Zakat Daerah (BAZDA) Sukabumi untuk menggali potensi dana zakat.

 

Melalui PERDA No 12/2006 ditetapkan bahwa pegawai negeri sipil (PNS) yang jumlahnya sekitar 16.000 adalah muzakki dengan demikian mereka harus mengeluarkan zakat dan zakat tersebut disalurkan ke Badan Amil Zakat Nasional Kabupaten Sukabumi. Dengan adanya perda ini, perolehan zakat di Kabupaten Sukabumi mencapai jumlah yang signifikan. Di luar itu, Baznas Kabupaten Sukabumi juga kreatif dalam menciptakan kupon shadaqah bernilai Rp 1.000,00 per-lembar. Cara ini cukup ampuh untuk menggalang dana infak/sedekah, sehingga pengumpulan ZIS di wilayah ini cukup banyak.

 

Pada tahun 2009, BAZNAS Kabupaten mendapat penghargaan berupa Zakat Award tingkat nasional. Menurut H. Musthafa Kamal Luthfi selaku Ketua BAZNAS Kabupaten Sukabumi (TABBAH, 2009, idem) kesuksesan pelaksanaan tugas mengelola zakat tak lain karena adanya sinergitas dari pemangku kepentingan (stakeholders) zakat di kabupaten yang penduduknya terkenal dermawan ini.

 

Secara internal, dalam melaksanakan tugasnya, BAZNAS memiliki 3 (tiga) komponen utama yaitu Dewan Pengawas (DP), Komisi Pengawas (KP), dan Badan Pelaksana (BP). Ketiganya mampu bekerja sesuai peran masing-masing serta berinteraksi secara harmonis. Sedang secara eksternal, BAZNAS saling berkomunikasi secara baik dan berinteraksi secara harmonis antara lain dengan Kantor Kementerian Agama Kabupaten, Majelis Ulama Indonesia (MUI), Forum Komunikasi Masjid (FKM), Ormas Islam, Kamar Dagang Industri (KADIN), dan Lembaga Amil Zakat (LAZ). Komunikasi dan interaksi ini ditempuh dalam rangka membina “social marketing” yang terus menerus baik lewat khutbah Jumat, majelis ta’lim, maupun sosialisasi berkesinambungan di unit-unit pengumpul zakat (UPZ), termasuk UPZ masjid, UPZ sekolah, UPZ organisasi perangkat daerah (OPD), dan lain-lain. Lewat komunikasi terpadu ini diharapkan dapat terbangun “ruang kesadaran ber-ZIS”.

 

Ora et labora (berdoa sambil bekerja), kata pepatah kulon, juga dilaksanakan BAZNAS Kabuaten Sukabumi. Musthafa selaku Ketua BAZNAS menerapkannya secara istikamah dan isti’anah. Sepanjang tahun 2001, ia dengan sesama rekannya di BAZNAS berdoa agar dikaruniai zakat senilai Rp 2,1 miliar, dan alhamdulil-Lah doanya terkabut. Pada tahun ini perolehan zakat tercapai melebihi yang diharapkan. Zakat terkumpul sebanyak Rp 2,7 miliar. Pada tahun 2006 sebesar Rp 5 miliar, dan pada tahun 2007 tercapai Rp 5,37 miliar. Untuk tahun 2008, Musthafa berdoa memohon perolehan zakat sebesar Rp 10 miliar, dan terkabul dengan 10,2 milyar. Subhanal-Lah.

 

Kesadaran akan kondisi masyarakat yang merawankan hati mendorong semangatnya untuk melakukan pentasharrufan zakat berbasis pemberdayaan masyarakat. Hal ini membuat BAZ Kecamatan Cikembar pada 2010 menempuh langkah mencoba program pemberdayaan masyarakat melalui peternakan. Untuk tahap pertama, terdata sebanyak 20 KK dengan 70 jiwa. Namun, yang terdaftar baru 45 jiwa.

 

Di Kecamatan Cikembar, dengan tajuk Membangun Desa Peradaban Zakat langkah pemberdayaan dimulai hingga berhasil mengidentifikasi kelompok binaan yang terdiri: (a) pedagang asongan dan pedagang kaki-lima (tukang bakso, gorengan, sayuran, dll.); (b) home industry (produsen keripik, tempe dll.); (c) PEKA (perempuan kepala keluarga) lewat home-industry, pemberian keterampilan, dan pemeliharaan ternak; (d) peternakan (kelinci, domba, itik peking, puyuh, lele), (e) pemanfaatan lahan produktif (disewa untuk kemudian ditanami tanaman musiman seperti: singkong, pisang, dll.); dan (f) perbengkelan (sepeda motor, sepeda, dll).

 

Mustahik yang dilibatkan untuk program ini dipilih secara khusus, yaitu: (a) masuk dalam kelompok mustahik, masih produktif, dan memiliki keterampilan dasar; (b) berkarakter baik (jujur, amanah, taat beribadah terutama biasa shalat jamaah di masjid setempat); (c) berminat dan memiliki rasa tanggungjawab tinggi; (d) bersedia mengikuti berbagai pertemuan bimbingan, pelatihan, pengajian yang diadakan BAZ Kecamatan; (e) memiliki lahan atau bersedia membuat kandang sendiri; dan (f) bersedia menandatangani kontrak kerja untuk jangka tertentu dengan BAZ Kecamatan Cikembar.

 

Target kuantitatif dari program ini adalah tingkat pendapatan kelompok binaan yang diupayakan bisa mencapai tingkat setara dengan upah minimum regional (UMR). Inilah contoh kreatif dari penerapan program pemberdayaan masyarakat berbasis zakat.

 

Mengingat bahwa kelompok non-muslim terbanyak di Sukabumi ada di Kecamatan Cikembar, maka pembinaan muallaf menjadi prioritas. Mengapa muallaf menjadi prioritas? Karena di Cikembar, tidak sedikit muslim dan muslimah murtad gara-gara ‘soal isi perut tak terpenuhi’. Untuk menarik hati mereka agar kembali ke agama semula (Islam), maka sangat tepat bila pentasharufan zakat diarahkan kepada mereka, baik pentasharufan dalam bentuk bantuan ekonomi konsumtif maupun produktif. nasir-shoelhi

Tulis Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.