Beranda Daerah

NU Malang Sarankan Kader Berpolitik Agar Lebih Dekati Nahdliyin

BERBAGI
Warga NU (foto: viva)
Warga NU (foto: viva)
Warga NU (foto: viva)

 

Malang, Tidaklah dilarang bagi kader NU untuk aktif dalam dunia politik. Secara organisatoris, organisasi Nahdlatul Ulama talah mengatur hubungan jam’iyyah dengan politik kepartaian pada Muktamar Situbondo tahun 1984. Yang intinya tidak menghalangi kadernya untuk menggunakan haknya sebagai warga negara. Termasuk hak berpolitik.

 

Namun dengan rambu-rambu, janganlah sampai membawa-bawa dan mengatas-namakan NU dalam segala kegiatan politik praktisnya. Demikianlah kiranya kesimpulan yang dapat diambil dari Naskah Khittah 26 NU yang diputuskan di Muktamar Situbondo pada tahun 1984 silam.

 

Dan Yang lebih penting lagi menurut Ketua PCNU Kabupten Malang, H Bibit Suprapto, saat diwawancarai Reporter berita9online di kediamannya: Kepanjen Malang, pada Sabtu, 12/10/2013; orang NU saat sudah sukses berpolitik Justru sebaliknya harus lebih dekat. Jangan sebalikya, malah melupakan warga NU.

 

“Salah satu hal yang harus diperhatikan kader NU yang berpolitik, jangan sampai melupakan rakyat.” Katanya.
“Justru para wakil rakyat semakin mendekatlah pada warga, supaya mereka yang di bawah semakin merasakan keberadaannya dan keberadaan NU.” Tambahnya.

 

Lebih jauh menurut tokoh NU yang pernah aktif menjadi anggota DPR di masa orde baru itu, para kader Nahdlatul Ulama dalam memerankan politiknya lebih mendampingi dan menyerap aspirasi masyarakat bawah dalam melakukan pendekatan.

 

Karena baginya, warga NU adalahlah ‘lahan perjuangan’ yang sangat besar bagi mereka dalam menyerap aspirasi rakyat disamping kelompok masyarakat lainnya secara umum. Namun sayangnya banyak aktifis NU yang terpengaruh Politik Transaksional.

 

“Sebenarnya, warga NU adalah ladang perjuangan yang besar bagi para wakil rakyat, tinggal bagaimana mereka mau ‘menyambangi’ mereka dan mendengar keluhannya.”

 

Lebih jauh, ia mengharapakan agara aktifis politik yang berlatar belakang NU agar memiliki orientasi perjuangan yang jelas. Dengan berlandaskan dan memakan prinsip dan sikap ala Ahlussunnah wal Jamaah.

 

“Saat ini saya melihat banyak para politisi kan tidak punya ideologi yang kuat dalam berpolitik. Dan tidak mempunyai orientasi yang jelas menjadi wakil rakyat. Sehingga sebentar saja duduk di parlemen lalu mudah terkena suap. Karena ideologinya adalah materialisme.” Tandasnya.
“Saya tidak berharap orang NU tidak demikian jika duduk di DPR.” Imbuhnya.(Ahmad Nur Kholis)

Tulis Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.