Karapan Sapi Madura Ibarat IPL dan ISL

BERBAGI
Karapan Sapi (foto: 13desember95)
Karapan Sapi (foto: 13desember95)
Karapan Sapi (foto: 13desember95)

 

 

Pamekasan-berita9online, Karapan sapi yang identik dengan kebudayaan Madura, dalam dua tahun terakhir ini, tak ubahnya kompetisi sepak bola Indonesia yang terpecah menjadi dua kelompok, yakni Indonesia Super League (ISL) dan Indonesia Primere League (IPL).

 

Sejak tahun 2012 lalu, karapan sapi di Madura, juga terpecah menjadi dua kelompok, yakni karapan sapi dengan menggunakan kekerasan (pola rekeng) dan karapan sapi tanpa kekerasan (pola pakkopak)

 

Karapan sapi tanpa kekerasan ini, dimotori oleh sekelompok orang yang menginginkan adanya pemurnian hazanah budaya Madura (kembali ke asal muasal kerapan sapi), yakni tanpa kekerasan atau menggunakan ‘pak-kopak’ sebagai alat untuk memacu lari pasangan sapi menuju garis finish.

 

Lain halnya dengan kelompok yang menggunakan kekerasan yang identik dengan istilah rekeng, yakni kelompok yang lebih mengedapankan kemenangan. Sehingga berbagai cara dilakukan, termasuk dengan membacokkan paku ke pantat sapi dan berbagai macam cara lainnya dengan target ‘asal menang’.

 

Kelompok kedua ini tidak peduli dengan berbagai kecamaman dan cercaan yang terjadi, sekalipun harus mempertontonkan ‘kekejaman’ terhadap para penonton kerapan (sapi pacu, Madura) juga kepada masyarakat di luar Madura, dan bahkan termasuk kepada masyarakat manca negara.

 

Di Madura sendiri, praktik pelaksanaan festival karapan sapi model rekeng atau yang oleh sebagian masyarakat disebut dengan penyiksaan terhadap hewan itu, mulai tumbuh dan berkembang sekitar tahun 1970-an.

 

Ambisi sebagian pemilik sapi karapan (juragan kerrap) untuk menjadi pemenang, akhirnya menyebabkan semua pemilik sapi melakukan hal yang sama, yakni menggunakan berbagai macam cara untuk menang. Sehingga praktik kekerasan dianggap bukan lagi hal yang tabu dan bahkan menjadi hal yang wajar dipertontonkan, termasuk kepada anak-anak dibawah umur.

 

Gagasan penghapusan praktik karapan sapi pola rekeng ini, sebenarnya mulai muncul sejak tahun 2009 lalu, atas keprihatikan sebagian tokoh di Madura akan adanya indikasi penyimpangan yang dilakukan para pemilik sapi karapan dari pakem budaya Madura yang sebenarnya. Yakni budaya santun, mengedepankan nilai seni dan merawat tradisi leluhur.

 

Para pemerhati budaya Madura, di antaranya kelompok budaya dan tokoh agama ketika itu akhirnya angkat bicara dengan menyerukan agar praktik kekerasan dihentikan. Sebab dengan cara seperti itu membuat pandangan masyarakat tentang karapan sapi menjadi jelek, yakni karapan sapi identik dengan penyiksaan hewan yang dipertontonkan.

 

Akan tetapi, keinginan para tokoh dan budayawan Madura, tidak mendapatkan tanggapan serius dari mayoritas para pengerap di Madura, kendatipun Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pamekasan sempat mengeluarkan fatwa haram. Sehingga kendatipun dianjurkan untuk dihentikan, mereka tidak peduli dengan tetap menggelar karapan sapi dengan menggunakan pola rekeng.

 

Kepala Bakorwil IV Pamekasan, Eddy Santoso, sesaat setelah menjabat pimpinan badan pemerintahan di Madura sempat menyatakan, dirinya mengaku risih dengan praktik kekerasan yang dilakukan para pemilik sapi karapan.

 

Tetapi dirinya tidak berdaya, karena mayoritas para pengerap memang tidak mau diperingati dengan alasan budaya. “Padahal budaya sebenarnya yang asli dulu tidak dengan membacokkan paku seperti yang dilakukan pengerap saat ini,” kata Eddy Santoso, pada waktu itu.

 

Lebih lanjut Eddy menjelaskan, karapan sapi dengan cara kekerasan justru akan ‘mencemarkan’ nama baik Madura pada khususnya, dan Indonesia di kancah dunia. Karena memperbolehkan praktik kekerasan, akan tetapi pihaknya sendiri tidak bisa berbuat banyak.

 

Sekalipun pada akhirnya, pihak Bakorwil IV Pamekasan memperbolehkan karapan sapi dengan kekerasan tetap digelar, namun dengan cara membagi dalam dua kelompok, yakni kelompok tanpa kekerasan (pak-kopak) dan kelompok pengerap yang tetap menggunakan cara-cara kekerasan (rekeng).

 

Pada akhirnya pemerintah melaksanakan karapan sapi dengan dua versi pada waktu bersamaan, Minggu (03/11/2013). Namun dua tempat berbeda, yakni karapan sapi dengan kekerasan yang digelar di Stadion R Soenarto, Pamekasan, dan karapan sapi tanpa kekerasan yang digelar di Stadion Kerap RPH Moh Noer, Bangkalan. [pin/but/beritajatim]

TIDAK ADA KOMENTAR

Tulis Komentar

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.