Jamrud Lider Makin DiCintai Ummat

BERBAGI
Pengajian Jamrud Lider.
Pengajian Jamrud Lider
gbjamrud
Pengajian Jamrud Lider

Purbalingga, Acara Jama’aah rutin Simthud Durar Lintas daerah (Jamrud Lider) pada hari Sabtu 5 Mei 2013 di Selakambang Kec. Kaligondang Kab. Purbalingga, Jawa Tengah berlangsung sangat meriah. Puluhan ribu jamaah warga Nahdliyin yang datang dari pelbagai penjuru wilayah Kab. Purbalingga dan sekitarnya memadati area lapangan desa setempat.

Mereka datang baik sendiri-sendiri maupun berjamaah, baik berjalan kaki maupun naik kendaraan roda dua dan roda empat di acara (Jamrud Lider) yang digelar tiap hari Sabtu Pon malam Minggu Wage. Selepas shalat Isya, jamaah mulai berdatangan dan menempati tempat duduk beralaskan tikar atau terpal yang disediakan panitia, ada sekitar 50 terpal digelar di area lapangan sepak bola dan jamaah benar-benar tumplek blek memadati tempat digelarnya pembacaan maulid Simthud Durar maha karya habib Ali bin Husein Al Habsyi itu.

Keindahan sastra maulid, riwayat kelahiran Nabi Muhammad SAW itu memang belakangan ini menjadi sebuah tontonan sekaligus tuntunan yang menarik dan diminati oleh masyarakat Indonesia, terlebih di wilayah Kab Purbalingga. Selepas dibentuk secara resmi kepengurusan Jamaah rutin pada medio 2010, di Bukateja dengan pengijazahan secara ‘am (umum) oleh Habib Alwi bin Ali bin Alwi Al Habsyi, Jamrud Lider mulai berbenah dan menggorganisir diri hampir se eks Karsidenan Banyumas meliputi Kab. Purbalingga, Banjarnegara, Wonosobo dan Cilacap.

Terlebih iringan kelompok rebana Jamrud yang hampir pasti menyeluruh di masing-masing kecamatan, mereka mengasah diri untuk tidak sekedar membaca kisah maulid Simthud Durar namun juga kasidah-kasidah yang ada di dalamnya. Kemasan iringan rebana dan dipadu suara yang rampak dari para munsyid Jamrud mampu mengundang ribuan jamaah baik anak-anak, sampai orang tua , laki-laki perempuan untuk menghadiri acara pengajian jamrud tiap bulan dan berpindah-pindah tempat dan pembicara ternama dari Ibukota ataupun dai –dai yang biasa tampil di depan televisi maupun khalayak umum.

Mereka seperti syekh mania bagi jamaah Habib Syech bin AbdulQodir Asegaf (Solo) atau Jamuro (KH Abdul Karim-Solo). Begitu acara dimulai, lantunan shalawat disambut dengan gerakan tangan atau bendera dari berbagai majlis taklim, taman pendidikan Al Qur’an, bendera Ansor , Nahdlatul Ulama, Muslimat dan jamaah-jamaah pengajian yang tersebar se-eks kars Banyumas.

Barisan muda Ansor bertidak sebagai panitia mulai dari area parkir, mengatur jalan raya bekerja sama dengan aparat keamanan setempat sampai mengamankan tempat acara. Kebetulan pada hari Sabtu beberapa waktu yang lalu, di awal bulan Mei 2013 yang mengisi pengajian adalah KH Mudatsir Idris dari Jatilawang, Banyumas.

Acara pembacaan maulid Simthud Durar dibuka dengan pembacaan kalam ilahy oleh ustadz Zamzami Suyuthi berlanjut dengan sambutan pembuka oleh Habib Ali bin Umar al Quthban, pembina Jamrud Lider se-eks Karsidenan Banyumas.

“Tidak ada tujuan lain dari Jamrud Lider, semata-mata adalah pengajian sebagai latihan untuk mencintai rasulullah SAW, tidak ada dukung-mendukung partai politik.Yang ada adalah cara untuk mencintai Rasulullah melalui pengajian shalawatan,” kata Habib Ali in Umar Al Quthban kepada jamaah.

Dilanjutkan, “Setiap ada pengajian tidak hanya pembacaan Simthud Durar, namun juga mengundang mubalig. Jamaah mengekpresikan kepada kepada Rasulullah SAW, jamaah tidak boleh berjoged, bendera boleh berkibar . Selama pembacaan Simthud Durar, jamaah tidak boleh merokok. Selepas pembacaan Simthud Durar, dibacakan juga Aqidahtul awwam(Aqidahnya orang awam). Sebab sekarang banyak orang mengaku orang berakidah ahlussunnah wal jamaah, namun tidak hafal nabinya dan malaikatnya,”.

Setiap pertemuan Simthud Durar, tutur Habib Ali, jamaah dianjurkan untuk membawa uang minimal Rp 1.000,- dan dikumpulkan tiap pengajian rutin, Alhamdulillah, Simthud Durar sudah punya aset 3 layar proyektor, proyektor dan terpal sebanyak 50 buah. Jamaah Simthud Durar sudah berjalan selama 3 tahun lebih setiap malam ahad wage.

Untuk bulan depan adalah pengajian penutupan di Blimbing, Banjarnegara. Sebab bulan adalah pertemuan penutupan pengajian menghadapi bulan Ramadan. Selama bulan Ramadhan dikhususkan jammaah untuk berpuasa dan tadarus al Qur’an. “Selama satu tahun terakhir ini Jamrud Lider sudah mengadakan 9 kali pengajian. Untuk tahun kedepan direncanakan selama satu tahun cukupkan 4 pertemuan saja,karena sudah banyak acara-acara pengajian semacam ini dan dengan tujuan jamaah tidak bosan, namun menjadi semakin tambah kangen, terutama menumbuhkan kecintaan kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW, menutup sambutan pembukaan pengajian Jamrud Lider. Semoga ini perjalanan Jamrud ini mendapat Riho dari Allah dan Rasulullah SAW dan kita mohon kepada Alah SWT semoga seluruh pengurus diberi kekuatan yang ikhlas untuk menjalankan pengajian rutin ini,” kata Habib Ali menutup sambutan pembuka.

Acara berlanjut dengan sambutan dari Camat Kaligondang, Esti Astono mewakili aparatur pemerintah Kab Purbalingga-Jawa Tengah, intinya menyambut baik atas terlaksananya acara rutin ini dan berharap masyarakat bisa menyerap ilmu dari pembicara yaang hadir pada malam itu.

gblider
Jamaah Jamrud Lider

Tepat pukul 22.00, KH Mudatsir Idris datang dan di daulat menjadi satu-satunya pembicara pada malam itu. Pengasuh Pondok Pesantren Mujahidin, Jatilawang Banyumas ini memang dikenal sebagai pembicara yang mampu membuat jamaah betah untuk menyimak acara pengajian, karena kaya dengan humor dan joke-joke segar kepada jamaah sehingga membuat jamaah semakin malam semakin memadai area lapangan hingga penuh, bahkan jalan aspal yang membelah desa untuk menuju area lapangan sempat dibuat macet total sampai dua kilometer karena penuh sesak untuk memasuki area acara di lapangan sepak bola desa Selakambang Kec Kaligondang kab Purbalingga.

“Kesempatan yang baik ini adalah sarana untuk meminta Rahmat Allah SWT. Rahmat apa yang kami minta. Dari 18.000 alam, dibuat dari Rahmat Rasulullah. Sebab Rasulullah adalah satu Rahmat. Satu-satu jamaah yang akan membawa kita selamat dunia dan akhirat,” kata KH Mudatsir Idris.

Rasulullah SAW diangkat Rasul karena sifat beliau adalah sidiq. Semua yang dibawa Rasul adalah kebenaran. Yang kedua, amanah. Yang ketiga tabligh dan keempat adalah fathonah.”

“Rasulullah SAW turun kedunia ini semoga menjadi Rahmat di Indonesia. Dimajlis ini dibacakan maulid Nabi Muhammad SAW, mudah-mudahan jamaah jamrud ini bisa selamat dunia diisi Rasulullah SAW dan Allah SWT. Di tengah-tengah masuknya La ilaha ilallah Muhammad Rasulullah masuk di dalam hati, maka akan melahirkan gerakan yang positip,” imbuh KH Mudatsir Idris .

Gerakan yang paling rawan adalah mulut. Cangkem rada sopan, yang tidak sopan cocot. Sebab cocotgandengannya badog Tapi orang jawa mengatakan cangkem dengan tutuk gandengannya dhahar (makan). Islam mengajarkan toto kromo. Islam sangat indah, mengajarkan sebagai pedoman dunia dan akhirat, dengan sikap sopan, jujur, andhap asor, ramah tamah,” lanjut KH Mudatsir Idris.

Selanjutnya, KH Mudatsir Idris mengajak jama’ah untuk mengikuti ajaran Kanjeng Rasululah SAW dengan ikuti gerakan dakwah para habaib dan ulama, aparatur pemerintah agar selamat di dunia dan akhirat. “Siapa pejabat? siapa habaib? siapa ulama? Siapa tangga teparo? Sopan,” tegas KH Mudatsir Idris.

“Sekarang jarang orang yang sopan, rokok mertua diambil. Mertuanya masih tidur, masih kesal Baru pulang ke rumah, minuman orang tuanya diminum, bilangnya kepada orang tua tanpa toto kromo lalu dengan entengnya bilang kepada sang mertua ’dari mana dong?’ Ada mertua di dong, dong.” Kata Mudatsir Idris disambut geer para jamaah.

Tangan disentuh dengan iman, jadinya loman. Sekarang orang menjadi njago pejabat, semua orang datangi, setelah jadi mengilang. Pembangunan boleh indah, tapi harus diimbangi dengan pembangunan mental spiritual agar seimbang. Ada kisah nugel pulau negari.”Kalau gunung slamet meletus, “Purbalingga lunga, banyumas dikemas, Tegal, gagal. Pemalang hilang. Cilacap lenyap. Pulau jawa jadi dua. Jawa Timr Tsunami dan seluruh pulau jawa hilang, meninggal dunia, yang selamat Cuma Mudatsir. Karena saya kebetulan sedang ceramah di Sumatra. Begitu pulang ke Pulau Jawa ini saya tinggal sendiri. Jadi sertifikat tanah pulau jawa ini diberikan kepada saya, Mudatsir Idris,” kata Mudatsir Idris disambt derai tawa seluruh jama’ah.

Dilanjutkan, Dewi lanjar dan Nyai Roro Kidul sedang besanan mengawinkan putrinya yang bernama Dewi Nawang Wulan, penganten lanangnya tidak hadir, jadi saya jadi penggantinya untuk menikahi Dewi Nawang Wulan,” lanjutnya…..

Acara pengajian yang berlangsung hampir berlangsung 2 jam itu penuh ger-geran bagi para jamaah. Sehingga hampir sampai jam 24.00 dini hari, jamaah yang membludak itu tidak beranjak dari tempat duduknya. Acara kemudian ditutup dengan doa oleh Habib Ali bin Umar Al Quthban. (Aji Setiawan)

TIDAK ADA KOMENTAR

Tulis Komentar

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.